Diskusi SATUPENA, Satrio Arismunandar: Ada Kesamaan Tantangan Antara Visi Jayapura Emas 2030 dan Indonesia Emas 2045

  • Bagikan
Ilustrasi Masyarakat Papua.

JAKARTA – Ada kesamaan tantangan antara visi Jayapura Emas 2030 dan Indonesia Emas 2045, yaitu menciptakan kesatuan pandangan dan sinergi antara pemerintah dan masyarakat.

Hal itu dikatakan doktor filsafat dari Universitas Indonesia, Satrio Arismunandar mengomentari diskusi bertema Menuju Jayapura Emas 2030 yang itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai penulis senior Denny JA Kamis 18 Mei 2023 malam.

Dalam diskusi itu, SATUPENA menghadirkan aktivis sosial John Manangsang Wally. John Manangsang Wally, adalah mantan Direktur RSUD Abepura.

Satrio Arismunandar memaparkan, dalam buku Jayapura Emas 2030 karya John Manangsang Wally, diungkap berbagai problem dan tantangan krusial yang dihadapi Papua umumnya, dan Kabupaten Jayapura khususnya, untuk bisa bergerak maju.

Ada kasus konkret berupa masa-masa sulit menjelang pelaksanaan PON XX dan Peparnas XVI 2021 di Kabupaten Jayapura, yang dihadapkan dengan persoalan pandemi Covid-19. Serta, adanya eskalasi aksi demo terkait masalah banjir bandang dan tanah longsor di Sentani.

Perlu kesatuan cara pandang, cara pikir, dan juga cara kerja, untuk mencapai satu tujuan. Yakni, bagaimana membangkitkan masyarakat. “Perlu kejelasan gagasan dan cara pencapaian, untuk menghindarkan tabrakan atau friksi yang tidak produktif,” tutur Satrio.

“Diperlukan kerja keras dan revolusi mental yang mendasar untuk mencapai visi Jayapura Emas 2030. Hal itu tidak bisa dicapai dengan santai-santai atau gaya yang biasa-biasa saja,” tegas Satrio.

Sedangkan mengenai visi Indonesia Emas 2045, Satrio memandang, Indonesia harus bekerja keras untuk lepas dari perangkap pendapatan menengah (middle income trap), untuk menjadi negara maju.

Jebakan pendapatan menengah adalah fenomena ekonomi, yang mengacu pada kesulitan yang dihadapi banyak negara dalam transisi dari tingkat pendapatan menengah ke tingkat pendapatan tinggi.

SIMAK JUGA :  Sore Ini Penentuan Siapa Jawara Baru Minangkabau Cup II

Ini ditandai dengan periode pertumbuhan ekonomi yang stagnan dan perjuangan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di luar ambang pendapatan tertentu.

Untuk mengatasi ini, kata Satrio, negara perlu menerapkan reformasi yang komprehensif dan terarah. Ini dapat mencakup investasi dalam pendidikan dan sumber daya manusia. “Membangun tenaga kerja yang terampil dan mudah beradaptasi sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” lanjutnya.

“Juga, mempromosikan inovasi dan adopsi teknologi, meningkatkan tata kelola dan kualitas kelembagaan, meningkatkan infrastruktur, dan mendiversifikasi ekonomi,” tambah Satrio. ***

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *