Diskusi SATUPENA, Martin Suryajaya: Kanon Literasi Lebih Luas Dari Sekadar Kanon Sastra

  • Bagikan
Martin Suryajaya.

JAKARTA – Pengertian kanon literasi lebih luas dari sekadar kanon sastra. Kanon literasi bukan hanya berkaitan dengan sastra dalam pengertian adiluhung.

Hal itu diungkapkan dosen Institut Kesenian Jakarta, Martin Suryajaya dalam webinar Pentingnya Kanon Literasi Bagi Bangsa di Jakarta, Kamis malam, 4 Mei 2023.

Webinar itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai Denny JA. Diskusi yang menghadirkan Martin Suryajaya itu dipandu Swary Utami Dewi dan Anick HT.

Menurut Martin, kanon literasi mencakup apapun yang merupakan bagian dari rekaman pikiran-pikiran masyarakat yang layak untuk dikenang. Jadi kanon literasi dalam hal ini berfungsi seperti memori.

“Seperti memori komputer, kanon literasi meneruskan informasi dari keadaan yang lama ke keadaan yang baru,” ujar Martin.

Sama seperti halnya tradisi lisan, kata Martin, ia menyampaikan ingatan dari masyarakat generasi sebelumnya kepada masyarakat generasi yang akan datang.

“Jadi mereka meneruskan semua pelajaran yang didapat selama menjadi bagian dari masyarakat itu kepada masyarakat yang sesudahnya,” lanjut Martin.

Martin berpendapat, kanon fungsinya sangat dekat dengan fungsi sosial, fungsi pendidikan dan fungsi politik. Ia membentuk warga negara yang baik dan benar, dan semacam itu.

Namun dalam perkembangannya kemudian, terutama di Indonesia, ketika bicara tentang kanon dan dikaitkan dengan literasi, diskusinya hampir tercampur dengan kanon sastra. Padahal itu dua hal yang sebetulnya berbeda.

“Jika kita bicara tentang kanon sastra, biasanya yang muncul di benak orang adalah daftar karya yang terbaik dari segi estetika,” tutur Martin.

Artinya, karya yang mencapai satuan estetika yang tinggi. Ini dilihat murni sebagai karya sastra, tanpa dikaitkan dengan masyarakat, ide tentang pendidikan, dan manfaat kenegaraan.

Kalau kita ingin membangun kanon sastra, kita bicara tentang hirarki nilai-nilai keindahan, yang lalu kita pakai untuk menentukan karya-karya yang cocok dengan nilai itu. “Ini berbeda dengan kanon literasi,” tegas Martin.***

SIMAK JUGA :  Pilgub 2018, NTT Dalam Bayang-Bayang Politik Dinasti
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *