Foto Jembatan Kembar di Padang Panjang, Sumatera Barat, saat masih belum selesai dievakuasi. (Foto : Dok Diskominfo Padang Panjang)
JAKARTA ‐ Korban meninggal akibat bencana longsor di Aceh, Sumut dan Sumbar terus bertambah. Sampai Ahad (30/11) jumlah korban meninggal sudah mencapai 316 orang, hilang 289 orang, tidak termasuk orang kehilangan tempat tinggal.
Sementara upaya evakuasi korban bencana di sejumlah tempat masih menghadapi kendala longsor tebal dan membutuhkan waktu untuk membereskannya.
Terkait penanganan pasca bencana ini, Presiden Prabowo Subianto meminta seluruh kekuatan nasional dikerahkan untuk menangani dampak bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Penegasan Presiden ini disampaikan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno dalam Rakor Penanganan Darurat Bencana di 3 Provinsi yang disiarkan secara daring, Minggu (30/11).
“Presiden langsung perintahkan untuk mengerahkan seluruh kekuatan nasional fokus untuk penanganan tanggap darurat ini secepat-cepatnya. Melakukan evakuasi, mengerahkan logistik, kemudian mengerahkan tenaga kesehatan, memulihkan infrastruktur, infrastruktur komunikasi, infrastruktur transportasi, dan untuk juga kawal di lapangan,” kata Pratikno.
Pratikno mengatakan saat ini bantuan logistik juga terus dikirimkan ke wilayah-wilayah terdampak, baik dari pemerintah maupun dari lembaga non-pemerintah.
“Jadi, seluruh kekuatan nasional dikerahkan untuk mempercepat tanggap darurat dan segera memulihkan secepatnya,” tambahnya.
Ia juga mengatakan pihaknya tengah menyiapkan skenario pemulihan wilayah-wilayah yang terdampak bencana ini, di antaranya dari sisi infrastruktur.
“Di saat yang sama kami juga menyiapkan skenario untuk pemulihan. Rehabilitasi dan rekonstruksi. Tentu saja kita fokus ke tanggap darurat, tapi tahapan skenario rehabilitasi, rekonstruksi, kita siagakan,” tuturnya.
Infrastruktur transportasi menjadi salah satu yang paling terdampak dalam bencana hidrometeorologi ini. Sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatra Utara bahkan masih terisolir, yang menyulitkan distribusi bantuan.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala BNPB Suharyanto mengatakan akses ke beberapa wilayah di Sumatra Utara yang masih belum bisa ditembus, di antaranya jalur Tapanuli ke Sibolga. Ia mengatakan akses jalur tersebut tertutup longsoran yang sangat panjang, mencapai hampir 50 kilometer.
Ia menyebut tim gabungan terus berupaya untuk membuka akses jalan tersebut. Menurut Suharyanto, akses tersebut kemungkinan baru bisa dibuka sepenuhnya dalam 3 hingga 4 hari mendatang.
Di Aceh, beberapa wilayah yang perlu mendapat perhatian adalah Aceh Tamiang, Bener Meriah dan Aceh Tengah. Seperti Tapanuli dan Sibolga, wilayah-wilayah ini menghadapi masalah akses.
Di Sumatra Barat, wilayah-wilayah yang terdampak bencana ini bisa diakses lewat jalur darat. Beberapa wilayah terdampak si Sumbar adalah Kota Padang, Padang Pariaman, Solok, Agam, Tanah Datar, dan Padang Panjang.
“Yang menjadi PR yang masih harus bersatu padu Satgas Nasional ini memang adalah untuk Sumatra Utara di dua kabupaten kota yang paling menonjol, Tapanuli Tengah dan Sibolga,” tutur Suharyanto.
“Kemudian Aceh, karena Aceh ini masih banyak yang terputus (aksesnya),” imbuhnya.
Lebih lanjut, Suharyanto mengatakan korban meninggal dunia akibat bencana di 3 provinsi tersebut mencapai 316 orang hingga Minggu (30/11) siang. Sementara itu, 289 orang masih dinyatakan hilang.
PU kerahkan Ratusan Personel dan Puluhan Alat Berat
Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat upaya penanganan darurat banjir dan tanah longsor yang terjadi secara simultan di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Sejak 25 November 2025, Kementerian PU secara bertahap telah mengerahkan alat berat, pompa, bahan penanganan banjiran, hingga personil teknis di seluruh lokasi terdampak.
Menteri PU Dody Hanggodo menyampaikan penanganan bencana memerlukan kolaborasi penuh antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, termasuk masyarakat.
“Dalam situasi darurat, kecepatan dan kolaborasi adalah kunci. Kementerian PU telah menggerakkan seluruh sumber daya mulai dari alat berat, personel teknis, termasuk dukungan logistik untuk membantu penanganan bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh,” kata Menteri Dody.
Sejak hari pertama menerima laporan kejadian bencana, seluruh unit teknis dari balai-balai di tiga provinsi tersebut bergerak untuk membuka akses jalan nasional, mengendalikan genangan, dan menyalurkan dukungan alat berat dan bahan penanganan darurat serta sarana dan prasarana untuk memenuhi air bersih dan sanitasi bagi pengungsi. Upaya ini diperkuat dengan pendirian posko dan koordinasi intensif antara balai-balai teknis di lingkungan Kementerian PU bersama BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah.
Di Provinsi Aceh, Kementerian PU telah menyiagakan 43 unit alat utama, terdiri dari alat berat, 30 pompa alkon, dan 1 speedboat. Hingga 27 November, sebanyak 20 unit alat berat telah berada di lokasi untuk mendukung pembersihan sedimen, pembukaan akses jalan, serta operasi pengendalian banjir melalui pintu air pasang surut.
Salah satu upaya penanganan telah dilakukan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I dengan menurunkan excavator untuk pengerukan sedimen pada saluran pembuangan di Kabupaten Aceh Utara, sekaligus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah agar langkah penanganan dapat dilakukan secara menyeluruh dan terarah.
Selanjutnya di Provinsi Sumatera Utara, Kementerian PU mengerahkan 75 unit alat utama yang mencakup 58 alat berat, 10 pompa alkon, dua mobil pickup, serta perahu karet. Dari jumlah tersebut, 21 unit alat berat sudah diturunkan lebih dulu untuk menangani longsor besar yang menutup jalur Tarutung–Sibolga, banjir di kawasan Barus dan Pangkalan Susu, serta kerusakan jembatan di sejumlah titik.
BBWS Sumatera II bekerja cepat membersihkan sedimen banjir bandang dan membuka jalur yang terisolasi, mengingat sebagian ruas nasional belum dapat dilalui kendaraan akibat tingginya material longsor.
Provinsi Sumatera Barat juga menjadi fokus penting penanganan, dengan 63 unit alat utama telah disiagakan terdiri dari 39 alat berat, satu rumah pompa, delapan pompa alkon, dua perahu fiber, enam mobil pickup, dan tujuh mobil tangki air. Hingga 27 November, 15 alat berat telah diturunkan untuk memperkuat penanganan longsor beruntun di Lubuk Selasih–Surian, pembersihan sedimen di Intake PDAM Padang, serta normalisasi Batang Malalo di Tanah Datar.
BWS Sumatera V juga telah mengirimkan 10.800 geobag dan 1.481 bronjong kawat ke Solok dan Tanah Datar untuk mendukung penanganan banjir dan menjaga stabilitas tebing. Kementerian PU memastikan seluruh sumber daya digerakkan secara maksimal untuk melindungi masyarakat dan menjaga fungsi infrastruktur vital.
Upaya percepatan penanganan bencana di wilayah terdampak juga dilakukan dengan mengerahkan ratusan personel tanggap darurat di tiga provinsi. Di Aceh, sebanyak 121 personel diterjunkan untuk mempercepat normalisasi akses dan membantu penanganan banjir serta longsor di sejumlah titik kritis.
Kementerian PU juga menurunkan 85 personel untuk membantu penanganan bencana di Sumatera Utara dan sebanyak 104 personel disiagakan untuk mendukung penanganan di Sumatera Barat. Ratusan personel tanggap darurat ini bergerak melakukan upaya pembukaan akses jalan, pembersihan material longsor, serta pemulihan infrastruktur dasar.
PU Gandeng Mitra Konstruksi Salurkan Alat Berat dan Logistik
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) juga menggandeng berbagai mitra kerja konstruksi untuk memperkuat mobilisasi alat berat, logistik, dan dukungan teknis guna mempercepat penanganan darurat bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah di Pulau Sumatera,
Kolaborasi ini dilakukan mengingat tingginya kebutuhan penanganan tanggap darurat di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa pemerintah akan terus menerus bekerja untuk menyampaikan bantuan ke daerah bencana.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam percepatan penanganan darurat bencana.
“Dalam situasi darurat, kecepatan dan kolaborasi adalah kunci. Kementerian PU telah menggerakkan seluruh sumber daya mulai dari alat berat, personel teknis, termasuk dukungan logistik untuk membantu penanganan bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh,” kata Menteri Dody dalam keterangan tertulis kepada media di Jakarta, Sabtu (29/11/2025) malam.
Sebagai bentuk sinergi, Kementerian PU berkoordinasi dengan BUMN Karya PT PP (Persero) Tbk (PP) untuk melakukan mobilisasi alat berat dan logistik di dua titik utama terdampak, yakni Tarutung, Tapanuli Utara dan Barus, Tapanuli Tengah.
Untuk Tarutung, bantuan yang digerakkan mencakup 2 unit excavator, 1 wheel loader, 1 truk tangki BBM berkapasitas 5.000 liter, 3.000 sand bag, 1.000 geobag, serta 1 mobil operasional 4×4.
Sementara di Barus, dukungan yang diberikan terdiri dari komposisi alat dan logistik yang sama.
Mobilisasi alat dijadwalkan dimulai Sabtu sore (29/11/2025) atau paling lambat Minggu (30/11/2025) disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan. PP juga menurunkan tiga personel teknis untuk pengecekan lapangan dan pengendalian operasi.
Dukungan serupa juga diberikan oleh PT Waskita Karya Tbk (Waskita Karya) yang mengerahkan alat berat dari Medan dan Tapanuli Selatan.
Untuk wilayah Tapanuli Selatan, 1 unit excavator sedang dalam proses mobilisasi dan ditargetkan tiba sore ini.
Sementara itu, 2 unit excavator lainnya dikirim dari Medan menuju Tapanuli Utara, dengan kendala kelangkaan BBM di lokasi bencana yang saat ini sedang diatasi melalui suplai BBM dari Medan.
Selain itu juga dimobilisasi 1 unit loader telah beroperasi di lokasi terdampak di Tiro.
Penyaluran logistik dan sembako untuk Tapanuli Utara dijadwalkan malam ini, sementara untuk Tapanuli Selatan dan Humbang Hasundutan akan dilakukan besok pagi setelah koordinasi dengan posko daerah.
Kementerian PU juga memperkuat penanganan darurat dengan berkoordinasi bersama BUMN Karya PT Adhi Karya (Persero) Tbk untuk mempercepat mobilisasi alat berat di sejumlah titik kritis di Sumatera Utara.
Saat ini telah dikerahkan peralatan ke tiga lokasi utama, yaitu ke daerah Sipirok dan Batang Toru dengan masing-masing 2 unit excavator, 1 unit loader, dan 1 dozer serta ke daerah Siais dengan 1 unit excavator dan 1 unit loader.
Di Provinsi Aceh, Kementerian PU bersama Adhi Karya turut menyiagakan alat untuk memperkuat penanganan darurat di tiga titik prioritas.
Di ruas Blangkejeren–Kutacane pada wilayah Aceh Tengah dan Aceh Tenggara telah beroperasi 1 unit excavator, sementara di ruas Bireuen–Takengon juga telah dikirimkan 1 unit excavator untuk mendukung pembersihan material longsor.
Selain itu, dua unit excavator direncanakan dikirim ke wilayah Pidie guna mempercepat pembukaan akses dan mendukung penanganan darurat di daerah yang terdampak paling parah.
Selanjutnya BUMN Karya PT Nindya Karya juga turut terlibat memperkuat dukungan tanggap bencana melalui mobilisasi alat berat dan logistik ke Sumatera Utara berupa 2 unit excavator yang saat ini dalam proses keberangkatan menuju Siporo (Sibolga), disertai satu unit dump truck dengan tangki BBM dan satu dump truck tambahan yang sedang dipersiapkan.
Selain itu, satu mobil box berisi sembako telah dikirim menuju Posko Sumut di Jalan Setia Budi, Medan, untuk mendukung kebutuhan logistik warga terdampak.
Di Sumatera Barat, Nindya Karya menyiapkan dukungan dengan memberangkatkan 3 excavator long arm, 2 excavator reguler, serta 3 wheel loader yang seluruhnya dalam proses keberangkatan menuju Kota Padang.
Sementara itu di Provinsi Aceh, Nindya Karya juga memobilisasi alat berat menuju Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, masing-masing terdiri dari 1 unit excavator PC200 dan 1 unit wheel loader yang saat ini dalam tahap persiapan keberangkatan.
Kementerian PU juga memastikan percepatan penanganan darurat, terutama pada jalur utama yang terdampak, dengan dukungan BUMN karya termasuk PT Hutama Karya (Persero) di Sumatera Barat.
Pada ruas Padang–Bukittinggi, dua unit excavator PC-200 dari operator Tol Sicincin–Padang telah tiba di Lembah Anai sejak 28 November 2025 dan membantu pembersihan material longsor serta pengamanan badan jalan.
Untuk penanganan darurat di wilayah Kota Padang, satu unit excavator PC-200 dari proyek Flyover Sitinjau Lauik ditempatkan di kawasan Luminpark, satu unit excavator PC-75 berada di Pasar Baru Universitas Andalas sejak 28 November 2025, serta satu unit excavator PC-200 dari Tol Sicincin–Padang dimobilisasi pada 29 November 2025 pukul 07.00 dan kini beroperasi di Kuranji.
Secara keseluruhan, hingga Sabtu (29/11), dukungan Hutama Karya di Sumatera Barat mencakup lima unit excavator, terdiri atas empat unit PC-200 dan satu unit PC-75.
Di Sumatera Barat, selain mengerahkan alat berat, bantuan logistik juga disalurkan Hutama Karya kepada masyarakat di sekitar jalan tol dan kawasan terdampak banjir maupun longsor.
Penyaluran dilakukan secara langsung kepada warga yang membutuhkan, sekaligus melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat agar distribusi bantuan lebih terkoordinasi dan tepat sasaran.
Di Sumatera Utara, Kementerian PU melalui dukungan Hutama Karya memperkuat penanganan darurat di ruas Tarutung–Sibolga.
Sejak 29 November 2025 pukul 00.00, satu unit excavator PC-200 dan satu unit excavator PC-330 dari area Siantar telah berada di lokasi, disertai satu unit truk tangki BBM berkapasitas 16 kiloliter untuk memasok bahan bakar alat berat.
Dua unit excavator PC-200 tambahan dari mitra kerja dijadwalkan mulai dimobilisasi pada 29 November 2025, sementara dua unit wheel loader yang mulai bergerak sejak 28 November 2025 sempat terkendala banjir di sekitar Tanjung Pura dan masih dalam proses pemutakhiran posisi.
Selain itu, satu unit alat pancang SSP tengah memasuki tahap pra-mobilisasi dari Pool Dumai dengan target tiba pada 30 November 2025, lengkap dengan material sheet pile sebanyak 200 batang yang diangkut menggunakan dua unit trailer dari Cilegon.
Di Sumatera Utara, pengoperasian alat berat Hutama Karya juga didukung keberadaan posko darurat di sekitar ruas jalan dan kawasan terdampak.
Posko ini berfungsi sebagai titik koordinasi lapangan sekaligus tempat penyaluran bantuan awal bagi masyarakat, yang pengelolaannya dilakukan bersama pemerintah daerah dan unsur penanganan bencana setempat.
Untuk mendukung upaya penanganan dan tanggap darurat bencana di sekitar Jalan Tol Binjai–Langsa, Hutama Karya juga menambah posko pengungsian di Rest Area KM 41+000 Jalur B, yang melayani pengguna jalan dari arah Tanjung Pura menuju Binjai.
Sejumlah bantuan disalurkan melalui posko ini, mencakup dukungan transportasi dan evakuasi, obat-obatan, serta makanan siap saji bagi warga terdampak yang membutuhkan akses aman menuju lokasi pengungsian. (*)
Awaluddin Awe













