Kepala BPI Danantara menyampaikan serah terima 600 Hunian Sementara (Huntara) di Aceh Tamiang akan dilakukan 8 Januari mendatang. Sementara pembangunan 15.000 Huntara du tiga propinsi terdampakl bencana akan tuntas dalam tiga bulan ke depan.

JAKARTA – Sebanyak 600 Hunian Sementara (Huntara) yang sedang dibangun di Aceh Tamiang, akan diserahkan kepada Pemda Aceh Tamiang 8 Desember 2026 depan.
“Serah terima 600 Huntara ini merupakan bagian dari 15.000 Huntara yang akan dibangun di tiga propinsi terdampak bencana yakni Aceh, Sumut dan Sumbar,” jelas Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Rosan Roeslani kepada wartawan, saat mendampingi Presiden Prabowo ke Aceh, Kamis (1/1/2026).
Menurut Rosan, pembangunan 15.000 Huntara akan selesai dalam tiga bulan ke depan dengan menggunakan dana CSR BUMN Karya dan sejumlah BUMN lainnya sebesar Rp1 Triliun.
“Rencananya dalam waktu tiga bulan ke depan, insyaallah kita bisa menyelesaikan 15 ribu rumah yang terbagi di tiga provinsi. Aceh kurang lebih 12 ribu unit, kemudian ada di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah itu kurang lebih 2.000 unit, dan Sumatra Barat 500 unit,” ujar Rosan.
Rosan menyampaikan tahap awal pembangunan akan ditandai dengan serah terima 600 unit hunian kepada pemerintah daerah pada 8 Januari mendatang. Selain rumah, Danantara juga menyiapkan sejumlah fasilitas pendukung bagi warga terdampak.
“Jadi rumah Hunian Danantara ini akan kita serah terimakan pada tanggal 8 Januari sebanyak 600 unit kepada pemerintah daerah. Tidak hanya hunian Danantara saja, tapi bersama itu juga kita serahkan ada taman bermain, jaringan Wi-Fi, musala, dapur umum sebanyak 14 unit, dan toilet dan kamar mandi juga 120 unit,” ujarnya.
Hunian tersebut dibangun di atas lahan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) yang telah dilakukan pembersihan lahan. Setiap unit memiliki ukuran sekitar 4,5 x 4,5 meter atau kurang lebih 22 meter persegi per rumah.
“Kami bangun di lahan PTPN yang sudah kami lakukan land clearing, Bapak Presiden. Bersama itu juga ukuran luasnya kurang lebih 4,5 x 4,5 meter persegi per unit,” ujar Rosan.
Dalam proses pembangunan, Danantara melibatkan 1.635 pekerja yang bekerja selama 24 jam, terdiri dari tenaga BUMN Karya seperti PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk, PT Nindya Karya, dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk.
Selain hunian sementara, Danantara juga menyiapkan rencana pembangunan hunian tetap yang lokasinya berada di area seberang kawasan hunian sementara.
Lahan yang digunakan saat ini memiliki luas 5,8 hektare dan masih dapat diperluas hingga 13 hektare.
Rosan menambahkan pendanaan pembangunan hunian ini berasal dari program corporate social responsibility (CSR) BUMN.
Hingga saat ini, anggaran CSR yang disiapkan mencapai sekitar Rp1 triliun dengan realisasi penggunaan dana sekitar Rp655 miliar.
“Kami pada saat ini sudah menargetkan untuk pengeluaran dari CSR seluruh BUMN kurang lebih kita anggarkan Rp1 triliun, Bapak Presiden. Yang di mana dengan selesainya rumah dan juga bahan-bahan lain yang kita sudah berikan pada saat ini, sudah mencapai kurang lebih Rp655 miliar,” ujarnya.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menyoroti disiplin eksekusi dan intensitas kerja BUMN dalam mengejar target waktu yang ketat. Pembangunan Rumah Hunian Danantara dilakukan dalam rentang waktu yang sangat terbatas.
“BUMN bekerja dengan intensitas tinggi, melakukan percepatan konstruksi, pengadaan material, hingga pengawasan mutu secara simultan agar target dapat tercapai sebelum awal tahun. Ini adalah contoh konkret bagaimana BUMN menjalankan peran strategisnya sebagai perpanjangan tangan negara, bukan hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga pada kepentingan sosial dan kemanusiaan,” ujarnya.
Kontribusi PTPN Grup
Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Denaldy Mulino Mauna, dalam kesempatan sama menyampaikan bahwa penyediaan lahan Huntara merupakan kontribusi PTPN Group dalam mendukung percepatan pembangunan hunian sementara yang aman dan manusiawi.
“Hunian yang layak adalah fondasi awal bagi masyarakat untuk kembali bangkit. Melalui penyediaan lahan, kami mendukung langkah negara agar warga terdampak dapat segera menata kembali kehidupan mereka secara aman dan bermartabat,” ujar Denaldy Mulino Mauna.
Menurut Denaldy, PT Perkebunan Nusantara Group memberikan dukungan pemulihan masyarakat terdampak bencana di beberapa wilayah. Di Kabupaten Aceh Tamiang, salah satunya melalui penyediaan lahan untuk pembangunan Rumah Hunian Danantara (Huntara).
Dukungan ini merupakan bagian dari kolaborasi BUMN di bawah koordinasi Danantara sebagai wujud kehadiran negara dalam menyediakan hunian sementara yang layak dan bermartabat bagi masyarakat terdampak.
Pembangunan Huntara dimulai pada 24 Desember 2025 dan menunjukkan percepatan yang signifikan. Hingga 1 Januari 2026, sebanyak 198 unit telah terbangun.
Kabupaten Aceh Tamiang merupakan salah satu wilayah terdampak paling parah akibat bencana hidrometeorologi ekstrem pada akhir November 2025, yang berdampak pada lebih dari 100.000 jiwa serta menyebabkan kerusakan luas pada permukiman dan infrastruktur dasar.
Memasuki fase transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan awal, kebutuhan terhadap hunian sementara yang layak menjadi sangat mendesak. (*)
Awaluddin Awe













