Foto ilustrasi proyek Sitinjau Lauik I. (FOTO : Corcom HPSL)
PADANG (HARIANINDONESIA.ID) – Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumatera Barat menyerahkan secara simbolis 10 bidang tanah untuk fasilitas sosial dan umum, serta dua bidang tanah milik masyarakat yang telah dibebaskan untuk Proyek Pembangunan Flyover Panorama I (Sitinjau Lauik I).
Penyerahan lahan tersebut dilakukan secara seremonial oleh Kepala Kantor Wilayah ATR/BPN Sumatera Barat Teddi Guspriadi, S.SiT., M.Sc. kepada Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat Kementerian Pekerjaan Umum, Elsa Putra Friandi, S.T. M.Sc., M.Eng, Sabtu (14/3/2026).
Penyerahan lahan ini disaksikan oleh Asisten Deputi Pemerataan Pembangunan dan Pengembangan Wilayah I Kemenko Infrastruktur dan Kewilayahan, Syahrudin, S.T.,M.App.Sc.,Ph.D., Gubernur Sumatera Barat, H. Mahyeldi Ansharullah, S.P, M.M., Direktur PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik, Michael Arthur Paulus Rumenser; serta jajaran pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan lainnya.
Selain itu, dilakukan juga simbolisasi pendaftaran konsinyasi untuk 12 bidang tanah seluas 6,69 Ha sebagai bagian dari proses penyelesaian pengadaan tanah proyek.
Dari total keseluruhan tanah Masyarakat seluas 8,49 Ha yang menjadi target pengadaan, saat ini tersisa sekitar 7 bidang dengan luas 0,17 Ha — diantaranya terdiri dari 5 bidang lahan Masyarakat dan 2 lahan fasos/fasum yang masih dalam proses tindak lanjut oleh BPN Sumbar.
Adapun penetapan konsinyasi direncanakan akan dilaksanakan pada April 2026.
Secara keseluruhan kebutuhan lahan untuk proyek mencapai sekitar 17,3 Ha.
Selain tanah masyarakat, sebagian area proyek juga berada di Kawasan tanah hutan lindung yang telah bebas sebesar 8,81 Ha dimana persyaratan perizinan dari Kementerian Kehutanan berupa PPKH dan Penetapan Area Kerja (PAK) telah terpenuhi.
Direktur PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik, Michael Arthur Paulus Rumenser, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memberikan kepastian terhadap proses pengadaan tanah proyek flyover sitinjau lauik.
“Kegiatan ini menjadi momentum penting karena memberikan titik terang dan kepastian terhadap proses pembebasan lahan, meskipun sebagian harus ditempuh melalui mekanisme konsinyasi. Hal ini tentu memberikan optimisme bagi HPSL untuk dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai target.” ujarnya.
Michael memberikan apresiasi terhadap Gubernur Sumatera Barat beserta jajaran, Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat beserta jajaran, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan melalui Deputi Pemerataan Pembangunan dan Pengembangan Wilayah I, Kepala Kantor Wilayah BPN Sumatera Barat, serta seluruh pemangku kepentingan lainnya atas dukungan dan sinergi yang telah diberikan.
Disisi lain, pembangunan fisik Flyover Sitinjau Lauik juga terus berjalan dilapangan. Hingga saat ini progres pembangunan telah mencapai sekitar 15 persen.
Pekerjaan konstruksi di Sitinjau Lauik 1 yang sedang berjalan saat ini adalah di Jembatan 1, beberapa bagian di Jembatan 3 dan 4, serta At Grade Penghubung ke Ujung jalan Nasional.
PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik adalah Badan Usaha Pelaksana (BUP) yang dibentuk khusus untuk melaksanakan Proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dalam Pembangunan Fylover Panorama I (Sitinjau Lauik I).
Perusahaan dibentuk oleh Pemrakarsa Proyek KPBU yaitu Konsorsium antara PT Hutama Karya (Persero) dengan kepemilikikan saham 55% dan PT Hutama Karya Infrastruktur dengan kepemilikan saham 45%.
Proyek Pembangunan Flyover Panorama I (Sitinjau Lauik I) bertujuan untuk membangun jalan dan jembatan (flyover) sepanjang 2,774 km, dengan total nilai investasi mencapai Rp2,793 triliun. Proyek ini memiliki masa konsesi selama 12,5 tahun yang mencakup 2,5 tahun masa konstruksi dan 10 tahun masa layanan.
Ruas jalan Sitinjau Lauik adalah penghubung utama antara kota Padang dengan Kabupaten Solok yang menjadi poros jalan nasional ke Kota Solok, Sawahlunto ke Dharmasraya dan Jambi.
Ruas ini memiliki patahan parah dan tingkat elevasi tinggi, sehingga pengendara, khususnya angkutan berat harus ekstra hati hati melewati jalur ini.
Ruas ini juga telah banyak memakan korban kendaraan yang terguling dan bertabrakan. Jika ada insiden, panjang antrian sampai puluhan kilometer.
Tetapi ruas ini memiliki tim Satlantas Sipil yang kuat. Mereka aktif membantu pengendara melewati titik rawan Sitinjau dengan ‘kayu pengalang’ (kayu pengganjal) jika tiba tiba kendaraan mundur. Aksi para Satlantas Sipil Sitinjau Lauik ini sangat viras di media sosial.(*)
Awaluddin Awe









