Menteri PU Dody Hanggodo berpose usai menyerahkan penghargaan kepada pemenang Sutami Award 2025 yang diselenggarakan di Kementerian PU, Senin (1/12). (Foto : Dok Bikom PU)
JAKARTA – Menteri PU Dody Anggodo memastikan komitmen Kementerian PU untuk terus menyiagakan dukungan infrastruktur dan kebutuhan teknis yang diperlukan masyarakat terdampak, termasuk menghadapi tantangan cuaca dan lonjakan mobilitas menjelang akhir Tahun 2025 dan Tahun Baru 2026.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Dody Anggodo di depan jajaran PU dan undangan Malam Apresiasi Sutami Awards 2025 sebagai bagian dari rangkaian Hari Bakti ke-80 PU yang mengusung tema “Infrastruktur Berkeadilan, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju,” di Auditorium Kementerian PU, Senin (1/12).
Dalam kesempatan tersebut, Menteri PU Dody Hanggodo menyampaikan kepedulian mendalam terhadap wilayah-wilayah di Sumatera yang sedang terdampak bencana, setelah mendampingi Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung kondisi di lapangan pada hari ini.
Menteri Dody menegaskan pentingnya kerja cepat, responsif, dan terkoordinasi.
Dody juga mensitir kembali pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam arahannya bahwa dalam kondisi seperti ini, dua hal harus menjadi prioritas utama yaitu keselamatan warga dan kecepatan respon di lapangan.
“Beliau menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, TNI-Polri, dan semua instansi teknis, termasuk Kementerian PU. Dimana saat ini kita sedang menghadapi sejumlah wilayah yang terdampak banjir dan longsor, yang telah menimbulkan dampak bagi masyarakat dan memerlukan penanganan cepat dari semua pihak,” ujar Menteri Dody.
Sebagai wujud kepedulian, Kementerian PU bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) juga menyalurkan donasi kemanusiaan bertajuk PU Peduli senilai Rp1 miliar yang dikonversi menjadi sembako, kebutuhan harian, serta perlengkapan darurat dan didistribusikan langsung ke daerah terdampak melalui unit-unit wilayah.
Menteri Dody juga memastikan komitmen Kementerian PU untuk terus menyiagakan dukungan infrastruktur dan kebutuhan teknis yang diperlukan masyarakat terdampak, sejalan dengan pendekatan hexahelix yang diterapkan Kementerian PU.
Hexahelix adalah sebuah konsep yang menggambarkan enam elemen yang saling terkait dan berputar untuk mencapai tujuan bersama.
Enam elemen tersebut adalah, Akademisi, Bisnis, Komunitas, Pemerintah, Media dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
Konsep ini digunakan untuk menggambarkan kolaborasi dan sinergi antara berbagai pemangku kepentingan dalam mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan.
“Pendekatan hexahelix juga penting dilakukan dalam mencapai target pembangunan melalui keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha konstruksi, kelompok profesional, akademisi, media,maupun komunitas masyarakat. Termasuk saat ini, Kementerian PU sedang memastikan infrastruktur nasional tetap siap menghadapi tantangan cuaca dan lonjakan mobilitas menjelang akhir Tahun 2025 dan Tahun Baru 2026,” tegas Menteri Dody.
Anugerah Sutami Award 2025
Dalam kesempatan yang sama Menteri Dody menyatakan pemberian Sutami Award yang diselenggarakan kali ini dapat menjadi pemicu dan pemacu untuk terus berinovasi dan berkarya menjadi lebih baik dan lebih unggul, serta memperkuat sinergi antar instansi dalam mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo.
“Kehadiran Bapak dan Ibu pada malam hari ini merupakan bukti kepedulian dan keseriusan bersama untuk terus mengawal pelaksanaan pembangunan infrastruktur menjadi semakin baik, berkualitas, dan berdampak luas untuk kemajuan bangsa,” tambah Menteri Dody.
Penghargaan Sutami Awards diberikan kepada 16 kategori penerima yang mencakup kementerian/lembaga, pemerintah daerah, mitra kerja, komunitas masyarakat, akademisi, penyedia jasa, hingga media.
Selain itu, diberikan pula Lifetime Achievement Award kepada tokoh yang dinilai berjasa dan menginspirasi dalam dunia pekerjaan umum.
Ragam kategori ini mencerminkan luasnya ekosistem pembangunan infrastruktur nasional serta komitmen Kementerian PU untuk memperkuat kualitas layanan publik melalui kerjasama multi sektor. (*)
Awaluddin Awe













