Desa di Aceh Lenyap berubah jadi aliran Sungai (foto : Dok)
JAKARTA – Pasca banjir bandang 18 November 2025, jumlah korban meninggal terus bertambah. Hari ini, jumlah korban meninggal bertambah enam orang, sehingga menjadi 1.112 jiwa.
Selain itu, jumlah orang yang masih hilang tercatat 176 orang, bertambah satu orang dari sehari sebelumnya.
Sementara jumlah warga yang mengungsi berkurang menjadi 498.447 jiwa. Pada Senin (22/12) lalu, jumlah pengungsi tercatat sebanyak 502.570 jiwa.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari saat Konferensi Pers di Youtube BNPB menjelaskan jumlah korban meninggal dunia per provinsi pada hari ini, Aceh mengalami peningkatan menjadi 483 jiwa.
Sedangkan untuk Sumatera Utara dan Sumatera Barat tidak mengalami perubahan, masing-masing sebanyak 369 jiwa dan 260 jiwa.
Muhari menyebut untuk korban hilang bertambah satu orang menjadi 176 jiwa dari yang sebelumnya 175 jiwa pada Senin lalu.
“Untuk korban hilang, kita mendapatkan tambahan satu nama sehingga hari ini terdapat 176 jiwa yang masih terus dilakukan pencarian dan pertolongan oleh tim SAR gabungan di tiga provinsi,” katanya.
Untuk jumlah korban hilang, sebanyak 32 jiwa di Provinsi Aceh serta 72 jiwa di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Sedangkan untuk jumlah pengungsi banjir Sumatra masih di angka 498.447 jiwa. Hal ini berkurang dari Senin (22/12) lalu, yang berjumlah 502.570 jiwa.
Muhari mengatakan pihaknya terus memberikan dukungan dan kebutuhan baik dari segi sandang maupun pangan bagi para pengungsi.
“Berikutnya ada 498.447 jiwa yang masih mengungsi ini terus kita dukung kebutuhan makanan dan nonpermakanannya,” ujarnya.
Perpanjang Masa Tanggap
Kesulitan dan keterbatasan waktu dalam penangan pasca bencana, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, Aceh memperpanjang masa tanggap darurat bencana banjir dan longsor selama tujuh hari, terhitung mulai 24 hingga 30 Desember 2025.
Keputusan tersebut diambil setelah dilakukan kajian cepat terhadap kondisi terkini di lapangan serta koordinasi dengan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Bener Meriah.
Kepala Pusat Data dan Informasi Posko Penanganan Bencana Hidrometeorologi Bener Meriah, Ilham Abdi mengatakan perpanjangan dilakukan untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal di tengah kondisi yang masih belum sepenuhnya pulih.
“Perpanjangan masa tanggap darurat ini merupakan hasil kajian cepat dan koordinasi bersama Forkopimda, dengan mempertimbangkan masih adanya dua kecamatan yang sulit diakses melalui jalur darat, yakni Kecamatan Mesidah dan Syiah Utama, serta beberapa kampung yang juga masih terisolir,” ujar Ilham, Selasa (24/12), dari CNNIndonesia.
Selama masa perpanjangan, pihaknya terus mengintensifkan penanganan darurat, mulai dari perlindungan warga terdampak, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga penguatan koordinasi lintas sektor guna meminimalkan risiko dan dampak lanjutan bencana.
Perpanjangan ini merupakan yang ketiga kalinya. Sebelumnya, status tanggap darurat telah diperpanjang untuk kedua kalinya pada periode 10 hingga 23 Desember 2025 dan berakhir pada hari ini.
“Kami mengimbau masyarakat tetap bersabar menghadapi cobaan ini, pemerintah terus berupaya semaksimal mungkin dalam melakukan penanganan,” katanya.
Data posko tanggap darurat bencana Bener Meriah update Senin (22/12) Pukul 18:00 WIB, masih ada 35.611 warga yang masih terisolir. Mereka tersebar di 58 desa dalam enam kecamatan.
Kecamatan terisolir yaitu Mesidah, Syiah Utama, Pintu Rime Gayo, Gajah Putih, Permata dan Timang Gajah. Lalu 166 jembatan mengalami kerusakan dan jalan sebanyak 81 titik.
Untuk korban meninggal dunia 30 jiwa dan 14 masih dinyatakan hilang. Saat total pengungsi di Bener Meriah sebanyak 5.974 yang tersebar di 43 titik.
Satu Desa di Aceh Lenyap
Selanjutnya, sebuah desa bernama Desa Lhok Gunci, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Aceh yang hilang oleh banjir bandang kini sudah menjadi alur sungai baru. Sebanyak 85 kepala keluarga (KK) di desa yang lenyap tersebut seluruhnya sudah mengungsi ke Desa Paya Rubek.
“Sebanyak 85 kepala keluarga mengungsi di Meunasah ini karena rumah mereka hilang tak berbekas. Kini, lokasi permukiman itu sudah menjadi alur sungai baru,” ujar Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir, Selasa (23/22).
Menurut penuturan warga, sebelumnya rumah-rumah berada sekitar 70 hingga 150 meter dari bibir sungai. Namun banjir bandang datang menggerus daratan, memindahkan alur sungai, dan menghapus permukiman beserta kebun warga.
Bahkan, sejumlah pusara dilaporkan ikut tergerus, sebagian terpaksa direlokasi karena terbongkar.
Di posko pengungsian, Marlina berdialog langsung dengan warga dan memberikan perhatian khusus kepada anak-anak. Ia juga meninjau layanan kesehatan yang tersedia di lokasi.
“Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, serta ibu hamil dan menyusui harus menjadi prioritas. Pastikan obat-obatan tersedia dan segera laporkan jika stok menipis,” katanya.
Salah seorang pengungsi, Yusri (39), menceritakan detik-detik banjir bandang yang datang sekitar pukul 04.00 WIB. Ia mengaku sempat terpisah beberapa meter dari anaknya yang masih bayi akibat derasnya arus.
“Air datang sangat cepat dan deras. Alhamdulillah, keluarga saya selamat. Setelah itu saya menyisir lokasi dan membantu evakuasi warga lain. Total 26 orang berhasil kami selamatkan,” ujar Yusri.
Saat air surut, rumah dan tapak tanah miliknya sudah hilang. Yang tersisa hanyalah alur sungai baru di lokasi bekas kampung mereka.
Marlina mengatakan warga yang rumah dan desanya hilang itu kembali menerima bantuan logistik.
Bantuan logistik itu disalurkan oleh Senin (22/12/) malam ke Desa Paya Rubek. Lokasi tersebut menjadi tempat pengungsian warga Gampong Lhok Gunci yang kampungnya hilang diterjang bandang. (*)
Awaluddin Awe













