Respon Danantara dan BP BUMN, Hutama Karya Bangun 120 dari 600 Huntara di Aceh Tamiang

DONY OSKARIA
COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN

JAKARTA – Merespon imbauan Danantara dan BP BUMN dalam BUMN Peduli Bencana hidrometeorologi, PT Hutama Karya (Persero) berpartisipasi membangun 120 Hunian Sementara (Huntara) di Aceh Tamiang.

Pembangunan 120 Huntara ini merupakan bagian dari target program BUMN Peduli membangun 600 Huntara di Aceh Tamiang. Huntara ini akan dibangun oleh tujuh BUMN Karya.

Chief Operational Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan Danantara dan Badan Pengaturan (BP) BUMN dipastikan hadir untuk mendampingi warga terdampak selama masa pemulihan.

“Danantara Indonesia dan BP BUMN hadir untuk mendampingi warga yang terdampak, memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, serta membantu masyarakat menjalani proses pemulihan secara bertahap,” ujar Dony dalam keterangan tertulis, Minggu (21/12).

Merespon imbauan COO Danantara, Donny Oskaria, Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, mengatakan PT Hutama Karya komitmen melalui kolaborasi BUMN Peduli.

“Tetapi pada fase awal pemulihan, kami kejar dulu jalur penghubung warga agar berfungsi kembali melalui BUMN Peduli. Hutama Karya hadir di lokasi bersama BUMN infrastruktur lain, terkoordinasi dengan otoritas setempat dan standar keselamatan ketat. Setelah konektivitas pulih, dukungan lanjut ke amanah pembangunan huntara untuk tempat tinggal sementara layak,” ujar Mardiansyah dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (25/12/2025).

Menurut Mardiansyah, rencana pembangunan Huntara di Aceh Tamiang berlokasi di Jalan Banda Aceh-Medan, Kebun Tj. Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.

Tim proyek Hutama Karya telah melakukan peninjauan lapangan awal. Hasilnya menunjukkan perlunya pembersihan lumpur, perataan lahan, dan penyediaan akses ke area yang masih terdampak bencana.

Huntara dirancang cepat dibangun dengan metode rangka baja ringan yang ringkas dan tahan lama. Material pilihan seperti papan semen untuk dinding, multiplek lantai, serta atap zincalume memastikan hunian kokoh, aman, dan siap huni dalam waktu singkat.

SIMAK JUGA :  FAKHRIZAL Sisir Solok Selatan Jemput Aspirasi Calon Pemilih Gubernur 2020

Setiap unit memiliki luas sekitar 12-30 m², dilengkapi fasilitas bersama berupa dapur umum, area cuci, mushola, serta sanitasi lengkap.

Pembangunan ini menandai komitmen BUMN konstruksi dalam proyek infrastruktur nasional pascabencana. Warga Aceh Tamiang kini punya harapan baru untuk masa transisi yang lebih manusiawi. Hutama Karya terus koordinasi dengan mitra BUMN bidang infrastruktur lain demi target tepat waktu.

Dukungan Alat Berat dan Akses di Tamiang

Sebelum melaksanakan pembangunan Huntara, PT Hutama Karya terlebih dahulu membereskan hambatan mobilitas akibat sejumlah ruas tertutup lumpur, kayu hanyutan, dan sedimen sehingga jalur penghubung dan pergerakan bantuan ikut terhambat.

Untuk mendukung pembukaan akses, PT Hutama Karya mengirimkan sejumlah sumber daya operasional untuk pembersihan material pascabanjir dan pemulihan jalur strategis warga.

Dukungan tersebut mencakup pengerahan empat unit excavator, didukung satu unit excavator PC75, dua unit dump truck, serta satu unit tangki solar untuk menopang kelancaran operasi di lapangan.

Selain pembersihan material, Hutama Karya juga memobilisasi dukungan konektivitas melalui penyediaan Jembatan Bailey, yakni 1 unit bentang 43 meter dan 2 unit bentang 48 meter. Dukungan tambahan turut disiapkan berupa excavator PC-200 (7 unit), crane 80 ton (1 unit), dukungan operator excavator, serta pasokan solar untuk memastikan operasi lapangan berjalan.

Seluruh peralatan tersebut digunakan untuk membantu pembersihan material seperti lumpur, kayu hanyutan, dan sedimen, sekaligus mendukung pekerjaan normalisasi pada titik-titik kritis yang menghambat jalur penghubung warga.

“Operasional dilakukan dengan mengutamakan keselamatan kerja dan koordinasi dengan pemangku kepentingan setempat agar penanganan tepat sasaran serta tidak beririsan dengan penanganan instansi lain.” pungkas Mardiansyah. (*)

Awaluddin Awe