JAKARTA – Musik dangdut telah meluaskan pengaruhnya ke banyak negara tetangga di kawasan ASEAN dengan dibuktikan oleh Akademi Dangdut di Indosiar yang peserta datang dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, dan Timor Leste.
Hal itu dinyatakan Mohammad Shofan, Direktur Program Ma’arif Institute dalam webinar di Jakarta, Kamis 14 April 2022 malam WIB.
Webinar yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena ini dipandu oleh Amelia Fitriani dan Elza Peldi Taher.
Mohammad Shofan mengungkapkan, keberhasilan dangdut menjadi musik yang diterima oleh semua kelompok di Indonesia boleh jadi karena karakter bunyi musiknya.
Dangdut lazimnya tidak hanya mengundang pendengarnya untuk ikut menyanyi, tetapi juga untuk berjoget.
“Ini berbeda sekali dengan misalnya sekadar pembanding, lagu keroncong,” katanya.
“Dangdut menawarkan hiburan yang lebih lengkap, karena lebih semarak dan lebih hidup,” tambahnya.
Pada tingkat perkembangannya dangdut kemudian menarik minat kelompok masyarakat dari negara lain di ASEAN yang memiliki karakter budaya mirip dengan Indonesia.
Seiring keberhasilan dangdut tampil sebagai inovasi musik yang “terhormat” di panggung nasional, belakangan lahirlah “dangdut etnik”.
Dangdut ini adalah perkembangan dari “dangdut Rhoma Irama”.
Menurut Shofan, berbicara tentang dangdut tak akan ada tepinya. Dangdut sudah menjadi “music of my country”. ***







