Usai Rakor Pemulihan Bencana, Mendagri Sebut Sumbar Bisa Pulih Sebelum Ramadhan

Mendagri Tito Karnavian bersama Gubernur Mahyeldi saat memimpin rapat kordinasi pemulihan bencana di Sumatera Barat. (Foto : Dok Puspen Kemendagri/Awe/HI)

JAKARTA – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut dan menyampaikan kata optimistis Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) akan pulih sepenuhnya sebelum Ramadan 2026.

“Kalau saya melihat bahwa kalau untuk Sumatera Barat, saya sangat pede (percaya diri) sekali sebelum Ramadan itu akan kembali normal,” kata Tito usai memimpin Rapat Kordinasi Pemulihan Bencana Sumatera di kantornya, Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Tito menyampaikan fokus pemulihan di Sumbar pasca bencana banjir dan longsor tinggal pada perbaikan akses jalan dan penanganan pengungsi.

“Kuncinya ya jalan aja. Jalan dan pengungsi dua itu aja untuk Sumatera Barat. Mudah-mudahan sebelum Ramadan sudah selesai,” ucap dia.

Sebelumnya, saat rapat maraton pemulihan bencana Sumatera Barat di Padang, Mendagri Tito menegaskan fokus pemulihan diarahkan pada empat daerah yakni Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Dalam rapat Selasa (13/1/2026) yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut, Mendagri juga melakukan verifikasi data terhadap 16 kabupaten/kota terdampak bencana di Sumbar.

Verifikasi dilakukan terhadap indikator tambahan pemulihan pascabencana, meliputi ketersediaan listrik, bahan bakar minyak (BBM) yang ditandai dengan beroperasinya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), ketersediaan gas elpiji, layanan internet, serta air bersih dan layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Indikator tambahan tersebut merupakan penguatan dari lima indikator pemulihan yang sebelumnya telah ditetapkan, yakni pulihnya roda pemerintahan, layanan publik bidang kesehatan dan pendidikan, akses darat, sektor ekonomi, serta kondisi sosial masyarakat.

“Indikator-indikator di Sumatera Barat relatif kami kira cukup menggembirakan. Kenapa? Karena semua pemerintahannya dari 16 yang terdampak ini, kita lihat hampir semuanya hijau pemerintah kabupatennya,” jelasnya.

Namun demikian, Mendagri menegaskan bahwa empat daerah dengan tingkat kerusakan cukup besar masih memerlukan dukungan gotong royong lintas sektor agar dapat segera pulih sepenuhnya. Selain itu, sejumlah daerah terdampak lainnya juga masih membutuhkan percepatan perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan, serta infrastruktur air bersih dan PDAM.

SIMAK JUGA :  Koalisi Sipil Kawal MK, tak Bisa Dipungkiri MK Loloskan Ponakan Usman Anwar Sendiri

Mendagri menekankan pentingnya verifikasi data yang akurat oleh seluruh kepala daerah agar pemerintah pusat dapat mengetahui secara rinci titik-titik infrastruktur fisik maupun sosial ekonomi yang akan diperbaiki. “Detail-detail seperti ini yang kita harapkan,” jelasnya.

Dampak Bencana di Sumbar

Bencana banjir bandang melanda Sumatera Barat pada 25 November 2025 yang berdampak terhadap 16 dari 19 kabupaten dan kota di Sumatera Barat, 57 kecamatan dan 198 kelurahan dan desa.

Bencana mengakibatkan 6.895 rumah rusak ringan, 2.981 rusak sedang, 5.077 rusak berat, 37.568 terendam dan 775 rumah hilang atau hanyut.

Selain itu, bencana juga berakibat kepada sejumlah fasilitas publik seperti
Rumah Ibadah 275, Fasilitas Kesehatan 149, Kantor 39, Pasar 8, dan Sekolah 734.

Secara sosial ekonomi bencana juga menimbulkan kerugian berupa Sawah 9.246 ha, Lahan 3.378 ha, Kebun 1.054 ha, Hutan 14.355 ha, Kolam 516.523 m2, Kios/Toko 378 m2, Pabrik 6.857 m2, Pariwisata 139 unit, Ayam 71.547, Kambing 292, Sapi 1.005,
Kerbau 121, Ikan 248.339, Itik 10.399, Burung Puyuh 3.000.
Total Ternak yang hilang adalah 334.703 ekor.

Sementara sarana vital yang terdampak Air Bersih 298 unit, Listrik 7, Telekomunikasi 128, Irigasi 540, Jalan 363, Jembatan 440, Jaringan Transportasi 2, Embung 2, Bendung 199.

Dikutip dari Dhasboard bencana alam Propinsi Sumatera Barat, Jumat (16/1/2026) nilai taksiran kerusakan mencapai Rp 15.632.217.769.650 terdiri dari kerusakan :

1. Rumah Rp1.043.915.316.708
2. Pelayanan Rp 629.964.379.600
3. Ekonomi Rp853.729.827.802
4. Sapras Rp 13.074.458.998.540
5. Ternak Rp30.149.247.000

Sementara nilai taksiran kerugian mencapai Rp17.917.997.140.037 terdiri dari :

Rumah Rp950.521.034.879
Pelayanan Rp487.693.315.034
Ekonomi Rp1.667.150.859.696
Sapras Rp14.750.406.265.428
Ternak Rp62.225.665.000

Total nilai taksiran kerusakan dan kerugian akibat bencana banjir bandang di Sumbar sebesar Rp 33.550.214.909.687 terdiri dari :

Rumah: Rp1.994.436.351.587
Pelayanan: Rp1.117.657.694.634
Ekonomi: Rp2.520.880.687.498
Sapras: Rp27.824.865.263.968
Ternak: Rp92.374.912.000.

Tetapi data ini masih bersifat sementara dan masih berpeluang berubah dan bertambah sesuai hasil laporan selanjutnya. (*)

Awaluddin Awe