Temuan DPRD, Pulau Ancak Dijadikan Perluasan Fasilitas Pelindo, Jadi Sumber Banjir di Dumai

Oplus_131072

Inilah kawasan Pulau Ancak yang sudah direklamasi oleh PT Pelindo Regional I Dumai yang kemudian disebut pihak DPRD Dumai sebagai penyebab sumber kebanjiran di kota Dumai (Foto : kredit Riaugreen)

JAKARTA – Komisi III DPRD Dumai mengklaim tindakan PT Pelindo Regional I Dumai yang mengubah Pulau Ancak menjadi perluasan fasilitas pelabuhan sebagai sumber penyebab banjir di kota Dumai.

Komisi III DPRD Dumai menyebut Pulau Ancak selama ini berperan menjadi penangkal masuknya arus pasang laut ke sungai di kota Dumai, sehingga Dumai bebas dari ancaman banjir.

“Tetapi sekarang Pulau Ancak sudah diubah peruntukannya oleh PT Pelindo Dumai menjadi kawasan pergudangan. Pantas saja jika dalam beberapa tahun terakhir kota Dumai terus mengalami kebanjiran,” ujar Hasrizal SH, Ketua Komisi III DPRD saat melakukan kunjungan kerja ke fasilitas PT Pelindo Dumai, Senin (24/11/2025).

Rombongan DPRD Dumai dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Agus Mawardi bersama lintas komisi, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang serta sejumlah aktifis lingkungan seperti Korlap Korlap ARUK Ahmad Maritulius, Darwis Mohamad Saleh Ketua PAB Dumai, didampingi Manager Umum PT Pelindo Nirwan, melihat secara langsung area Puulau Ancak yang kini sudah menjadi daratan.

Pulau Ancak ini, kini sudah disunglap oleh PT Pelindo Regional I Dumai menjadi fasilitas pergudangan baru.

Menurut Darwis Mohamad Saleh keberadaan Pulau Ancak sebelumnya adalah Delta anak sungai dengan luas mendekati setengah hektar.

Keberadaan Pulau Ancak bukan hanya berfungsi sebagai pengatur arah air saat pasang, tetapi juga menjadi tumpuan bagi warga sekitar pesisir sebagai sarana membuang ancak (tetomeh).

Tetapi kini, Pulau Ancak itu sudah didatarkan oleh PT Pelindo Dumai menjadi dataran yang sepertinya diperuntukan sebagai fasilitas pergudangan dan perkantoran baru.

Mohamad Darwis dengan nada kesal dan sedih mengungkapkan bahwa apapun upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengentaskan atau meminimalisir naiknya air laut ke darat akan sia-sia, karena delta anak sungai sebagai pengatur aliran air pasang sudah berubah menjadi pabrik, sehingga saat air laut pasang alirannya menuju ke darat.

SIMAK JUGA :  Dituduh Selingkuh dengan Ahok, Grace Natalie Laporkan Hulk ke Polisi

“Mengapa kota Dumai banjir rob saat air laut pasang. Karena pulau ancak yang berfungsi sebagai pengatur arus air laut saat pasang sudah lenyap di “Pelupuh” PT Pelindo menjadi daratan. Makanya, kota Dumai sulit terhindar dari banjir rob saat air pasang,” sesal Darwis Mohamad Saleh.

Mendengar penjelasan dan pemaparan Darwis Mohamad Saleh, Ketua Komisi III DPRD kota Dumai Hasrizal SH mempertanyakan alas hak atas kepemilikan lahan PT Pelindo Dumai dan menyatakan akan membahas persoalan ini di DPRD dengan mengundang elemen lebih besar terkait dengan alih fungsi Pulau Ancak ini.

“Hasil turun lapangan ini, Kita akan bahas kembali di dalam rapat yang lebih luas dengan mengundang seluruh element masyatakat. Dan saya minta PT Pelindo Regional I Dumai, membawa alas hak kepemilikan lahan dan menunjukan kepada kami,” tegas Hasrizal SH.

Perubahan oleh Proyek Pelabuhan

Sementara itu, GM PT Pelindo Regional I Dumai Jonathan Ginting dalam penjelasan tertulisnya, menyebutkan berdasarkan data yang ditelusuri diketahui bahwa perubahan atas anak sungai terjadi karena Proyek pengembangan Pelabuhan Dumai oleh Pemerintah C/q Kementerian Perhubungan.

Jonathan juga menyampaikan terkait dengan penguasaan Pulau Ancak ke dalam aset PT Pelindo Regional I Dumai, karena telah diserahkan oleh Pemerintah kepada Pelindo sebagai Penambahan Penyertaan Modal Negara (PPMN).

Jonathan juga menjelaskan bahwa menurut keterangan beberapa tokoh di sekitar Palabuhan Dumai bahwa penyerahan Pulau Ancak ke Pelindo prosesnya dulu sudah melalui kesepakatan dengan stakeholder termasuk tokoh masyarakat.

Jonathan meyakini bahwa Pulau Ancak merupakan lahan milik negara, karena berasal dari reklamasi.

Sebelumnya sejumlah aktifis lingkungan dan tokoh masyarakat melakukan unjuk rasa ke Pelindo Dumai menuntut pengaktifan kembali lima sungai yang mati disebabkan aktifitas di pelabuhan. Tidak aktifnya lima sungai disebutkan menjadi penyebab terjadi kebanjiran meluas di kota Dumai. (*)

Awaluddin Awe