Presiden Ukraina Minta Amerika Serikat dan Barat Berhenti Membuat Kepanikan

Ukraine's President Volodymyr Zelensky looks on during a press conference after a meeting with president of the European Council at the European Council in Brussels on June 5, 2019. (Photo by EMMANUEL DUNAND / AFP) (Photo by EMMANUEL DUNAND/AFP via Getty Images)

Volodymyr Zelensky

Kiev– Presiden Ukraina meminta Amerika Serikat dan sekutu Baratnya untuk tidak membuat kepanikan di tengah kondisi yang tidak menentu akibat penumpukan pasukan Rusia di perbatasan.

Volodymyr Zelensky juga menambahkan bahwa peringatan invasi dari Rusia yang akan segera terjadi justru menempatkan ekonomi Ukraina dalam bahaya.

“Ada sinyal bahkan dari para pemimpin negara yang dihormati, mereka hanya mengatakan bahwa besok akan ada perang”

“Ini justru menambah panik. Berapa biaya yang akan kita keluarkan untuk situasi seperti ini?” ujar Presiden Zelensky sebagaimana dikutip Pikiranrakyat-Depok.com dari The Week pada Sabtu, 29 Januari 2022.

Di sisi lain, menurut Presiden Zelensky, destabilisasi situasi di dalam negeri adalah ancaman terbesar bagi Ukraina itu sendiri.

Presiden Ukraina itu mengingatkan bahwa negaranya telah hidup dengan ancaman agresi Rusia selama bertahun-tahun, meskipun ukuran ancamannya berbeda-beda.

Rusia, bagaimanapun, menyangkal berencana untuk menyerang dan pada hari Jumat menteri luar negerinya mengatakan Moskow tidak menginginkan perang.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengungkapkan bahwa Moskow tidak akan memulai perang di Ukraina.

Namun Lavrov memperingatkan bahwa mereka tidak akan membiarkan Barat menginjak-injak kepentingan keamanannya, di tengah kekhawatiran bahwa pihaknya berencana untuk menyerang tetangganya.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden memperingatkan pemimpin Ukraina sehari sebelumnya bahwa ada kemungkinan yang berbeda yakni Rusia dapat mengambil tindakan militer terhadap bekas negara Soviet pada Februari mendatang.

“Tidak adanya perang sejauh itu tergantung pada Federasi Rusia, dan kami tidak menginginkan perang”

Tapi kami tidak akan membiarkan kepentingan kami diinjak-injak dan diabaikan dengan kasar,” ujar Menteri Luar Negeri Lavrov dalam wawancara langsung dengan stasiun radio Rusia.

Ketegangan meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya dengan hati-hati mengawasi penumpukan lebih dari 100.000 tentara Rusia di dekat Ukraina, khawatir bahwa Moskow sedang bersiap untuk menyerang.

SIMAK JUGA :  Menteri Pertanian Ajak Kurangi Makan Beras

Rusia telah berulang kali membantah memiliki rencana semacam itu, tetapi telah menuntut agar NATO berjanji bahwa Ukraina tidak akan pernah diizinkan untuk bergabung.

Selain itu, Rusia juga meminta NATO untuk menghentikan pengerahan pasukan dan peralatan militer di Eropa Timur. (CNN)