Ganjar Pastikan Anak Muda Terlibat pada Konservasi Lingkungan, Epidemiolog : Indonesia Butuh Visi Lingkungan

Foto ilustrasi Capres Ganjar Pranowo (Foto : dok)

JAKARTA, Harianindonesia.id –

Calon Presiden (Capres) Nomor Urut 3, Ganjar Pranowo memastikan akan melibatkan anak muda pada upaya konservasi lingkungan yang menitikberatkan pada pengembangan ekonomi hijau dan ekonomi biru.

Capres yang diusung partai politik PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Hanura, dan Partai Perindo ini juga menekankan pada konsep ekonomi hijau, yang nantinya dapat menciptakan lapangan kerja baru.

Langkah strategis itu ditempuh berdasarkan pertimbangan bahwa anak muda memiliki gagasan luar biasa yang memerlukan dukungan semua pihak. Selain itu, anak muda juga menjadikan ekonomi kreatif sebagai pendamping yang berorientasi sangat hijau.

“Anak muda peduli kepada ekonomi sirkular. Mereka mengelola sampah, di tempat-tempat yang tidak terlalu luas di kampung, desa, dan di gang-gang perkotaan,” ujarnya dikutip dari akun Instagram @tpnganjarmahfud, Minggu (14/1/2024).

Tentu saja, lanjutnya, ini makin menarik karena isu yang dibawa adalah terkait lingkungan. Sebuah kepedulian yang ditunjukkan secara konkret karena akan menanam sejuta pohon.

Sementara itu, relawan Nusantara Ganjar (NAGA) secara simbolis telah memulai gerakan menanam Satu Juta Bibit Pohon untuk mendukung konservasi lingkungan di Indonesia, pada Kamis (11/1/2024).

“Tidak banyak bicara, sat set langsung tanam. Itu keren,” kata Ganjar sembari mengangkat jempol.

Visi Misi pasangan Ganjar-Mahfud menyatakan akan mempercepat perwujudan lingkungan hidup yang bekelanjutan melalui, ekonomi hijau dan biru, yang mencakup lingkungan hidup berkelanjutan, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.

Di bidang lingkungan hidup, Ganjar-Mahfud fokus pada mengurangi emisi gas rumah kaca, harmoni hutan untuk keseimbangan, pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan.

Kemudian, adaptasi dan mitigasi krisis iklim, penerapan environmental, social, governance (ESG) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem ekonomi dan sistem keuangan, serta Kampung Sadar Iklim sebagai upaya promotif di tingkat kampung untuk menahan laju perubahan iklim.

Pemimpin Bervisi Lingkungan

Sementara itu, Guru Besar Epidemiologi Lingkungan dari Universitas Indonesia (UI) Budi Haryanto menegaskan, Indonesia memerlukan pemimpin responsif yang memahami persoalan lingkungan hidup.

Diakuinya, persoalan lingkungan yang kini terjadi di Indonesia belum direspons secara cepat dan tepat dengan program-program yang betul-betul berdampak signifikan.

Budi menanggapi rencana Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menyelenggarakan Debat Cawapres, pada Minggu (21/1/2024), yang mengusung tema Pembangunan Berkelanjutan, Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup, Energi, Pangan, Agraria, Masyarakat Adat, dan Desa.

Debat akan mempertemukan Cawapres Nomor Urut 1 Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Cawapres Nomor Urut 2 Gibran Rakabuming Raka, dan Cawapres Nomor Urut 3 Mahfud MD.

“Persoalan lingkungan berkaitan dan berdampak langsung pada berbagai masalah kesehatan. Dan, hingga saat ini belum dituntaskan, meskipun berbagai program sudah dilakukan,” kata Budi di Jakarta, Minggu (14/1/2024).

SIMAK JUGA :  Relawan ASJBI Pendukung Ganjar Mahfud Sebut Pemilu Sudah Curang Sejak dari Hulu hingga ke Hilir

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat UI (FKM-UI) itu berpendapat, Visi Misi para Capres-Cawapres tidak secara spesifik menyinggung persoalan lingkungan dan kesehatan yang dihadapi penduduk saat ini.

“Visi Misi Capres-Cawapres cenderung untuk masa yang akan datang, bukan masa kini. Padahal, Indonesia sedang menghadapi persoalan lingkungan yang berdampak pada kesehatan. Ide atau gagasan belum merespons persoalan yang sedang dihadapi,” katanya.

Dikatakan, kerusakan lingkungan makin hari makin parah, yang antara lain menyebabkan perubahan iklim, cuaca ekstrem yang memicu banjir dan longsor, serta bencana alam gempa bumi.

Perubahan iklim, ujarnya, sudah terjadi dan akan terus terjadi serta berdampak besar pada lingkungan. Oleh karena itu, harus ada upaya spesifik untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan itu.

“Misalnya, terjadi hujan deras. Bagaimana mengantisipasi banjir dan tanah longsor. Apa yang harus dilakukan. Ini tidak muncul dalam gagasan Capres-Cawapres. Paling tidak dipikirkan apakah yang harus dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim,” tukasnya.

Dia menyebut, memang ada program energi bersih. Masalahnya, perubahan iklim sudah terjadi dan berjalan terus, sedangkan energi terbarukan itu baru akan dilakukan.

“Artinya, energi diprioritaskan untuk ke depan. Pemicu perubahan iklim, dari sisi energi sudah dilakukan agar tidak makin prah akibatnya. Tapi, apakah itu bisa turut andil, seberapa massif akan terjadi?” tanyanya.

Penyakit Menular

Budi memaparkan, beberapa jenis penyakit menular yang muncul akibat perubahan dan kerusakan lingkungan, di antaranya Malaria, Demam Berdarah Dengue (DBD), dan Tuberculosis (TBC).

Untuk pengendalian DBD, katanya, digembar-gemborkan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan satu rumah satu juru pemantau jentik (Jumantik), tapi kasus DBD tetap saja meningkat.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan, hingga Oktober 2023, terdapat 68.996 kasus DBD dengan kasus kematian mencapai 498 jiwa.

Sementara itu, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis 7 November 2023, menempatkan Indonesia pada urutan kedua teratas kasus tuberkulosis di dunia. Kemenkes RI mencatat, per 3 November 2023, total kasus TBC sebanyak 658.543 kasus.

Demikian juga upaya mengeliminasi wabah malaria di tingkat Kota/Kabupaten belum berhasil, karena secara nasional angka kasus malaria masih tinggi. Berdasarkan data Kemenkes RI, Indonesia adalah salah satu negara endemis malaria dengan jumlah kasus mencapai 443.530, di mana 89% kasus positif malaria berasal dari Provinsi Papua.

“Hal-hal yang sudah dilakukan puluhan tahun nyaris tidak ada hasilnya. Semua akibat lingkungan terdampak kepada manusia. Bisakah capres-cawapres punya ide untuk mengendalaikan kerusakan yang sedang berjalan, serta membuat inovasi agar dampak perubahan lingkungan tidak semakin parah,” pungkasnya. (*)

Awaluddin Awe