12 Daerah Masuk Pemulihan, 90% Jalan Tersambung, dan Basarnas Hentikan Pencarian Orang di Aceh

Presiden Prabowo saat berkunjung ke Sumatera Barat (Foto : Awe/HI/

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengungkap 12 kabupaten/kota terdampak banjir Sumatra telah masuk fase pemulihan.

Tetapi, sejumlah daerah lainnya masih melanjutkan status tanggap darurat guna memastikan penanganan kebutuhan warga terdampak berjalan optimal.

Pratikno menyampaikan peralihan status tersebut mencakup 12 daerah dari total 52 kabupaten/kota di tiga provinsi terdampak, yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

“Alhamdulillah berkat gotong royong kita semua, dari 12 kabupaten/kota di 52 kabupaten/kota di tiga provinsi, statusnya sudah masuk ke transisi ke fase pemulihan. Mohon maaf ini, meskipun demikian di Provinsi Aceh masih ada 11 kabupaten yang akan memperpanjang status tanggap darurat,” ujar Pratikno dalam konferensi pers, Kamis (25/12).

Ia menjelaskan perpanjangan status tanggap darurat dilakukan agar upaya penanganan darurat dapat berjalan maksimal dan daerah benar-benar siap memasuki fase pemulihan.

“Semua ini dilakukan untuk memastikan upaya tanggap darurat yang dibutuhkan oleh warga bisa terlaksana dengan maksimal. Dan agar daerah benar-benar siap masuk ke fase pemulihan,” katanya.

Terkait pemulihan pascabencana, pemerintah mulai mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) di wilayah terdampak.

Di Sumatera Barat, pembangunan huntara telah berjalan di enam kabupaten/kota, sementara di Sumatera Utara berlangsung di tiga kabupaten/kota dan terus bertambah.

Adapun di Aceh, satu kabupaten telah memulai pembangunan, sedangkan kabupaten lain masih dalam tahap persiapan dan percepatan, dengan penyiapan lahan menjadi tantangan utama.

Berdasarkan paparan penanganan, di Provinsi Aceh sejumlah daerah telah menyiapkan lokasi huntara dan melakukan pematangan lahan, sementara sebagian lainnya masih dalam proses identifikasi.

Di Sumatera Utara, pembangunan huntara dan huntap telah berjalan di beberapa wilayah, termasuk yang telah memulai pembangunan unit contoh dan tahap perencanaan lanjutan.

90 Persen Jalan Tersambung

Selain itu, kata Pratikno, sebagian besar akses transportasi di wilayah terdampak banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, mulai kembali pulih.

Pemerintah mencatat dari 81 ruas jalan nasional yang terdampak di tiga provinsi tersebut sebanyak 72 ruas atau hampir 90 persen telah kembali berfungsi, sembilan ruas lainnya masih dalam proses percepatan dan terus dikerjakan tanpa henti.

Pratikno mengatakan pemulihan konektivitas menjadi prioritas agar aktivitas masyarakat dan distribusi logistik tidak terhambat.

Pratikno menyebut percepatan penanganan dilakukan agar arus logistik, layanan darurat, serta mobilitas masyarakat bisa segera kembali normal. Upaya pemulihan melibatkan lintas kementerian/lembaga, termasuk pemerintah daerah dan aparat di lapangan.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari melaporkan jumlah korban jiwa akibat banjir di Sumatra kembali bertambah. Hingga Kamis (25/12), total korban meninggal di tiga provinsi terdampak mencapai 1.135 jiwa, sementara 173 orang masih dinyatakan hilang dan proses pencarian terus berlangsung.

Penambahan korban jiwa tersebut merupakan hasil operasi pencarian dan pertolongan yang terus dilakukan di lapangan.

“Per hari ini ada penambahan jumlah korban jiwa sebanyak enam jiwa, sehingga total yang kemarin 1.129 jiwa, ini menjadi 1.135 jiwa. Ada pengurangan korban hilang daftar pencarian yang masih terus dilakukan,” ujar Abdul.

Sekolah Awal Januari, Buka

Pratikno menyatakan kesiapan operasional sekolah di wilayah terdampak banjir di Sumatra terus meningkat. Rencananya, sekolah dapat kembali beroperasi pada awal Januari 2026.

Persiapan dilakukan melalui pembersihan, perbaikan, dan pemulihan fasilitas pendidikan seiring berjalannya penanganan dampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Sektor pendidikan menjadi perhatian pemerintah menjelang dimulainya kembali kegiatan belajar-mengajar.

Di Aceh, sebagian sekolah telah dipersiapkan untuk kembali beroperasi setelah terdampak banjir.

“Di Aceh, sekitar 65 persen sekolah telah disiapkan untuk beroperasi kembali. Ini dilakukan melalui pembersihan, revitalisasi fasilitas dan seterusnya untuk menyongsong tahun ajaran baru nanti pada tanggal 5 Januari 2026,” ujar Pratikno

SIMAK JUGA :  Penanganan 1.459 Titik Bencana Sumatera Dilanjutkan, Fokus pada Pemulihan Dasar

Sementara itu, kondisi kesiapan sekolah di Sumatra Barat dan Sumatra Utara dinilai lebih tinggi. Pemerintah mencatat mayoritas satuan pendidikan di dua provinsi tersebut telah mendekati kondisi normal dan siap menyambut pembukaan sekolah pada awal Januari.

“Untuk Sumatra Barat dan Sumatra Utara, tingkat kesiapan operasionalitas sekolah sudah mendekati 90 persen. Jadi pemerintah terus berkomitmen melalui berbagai upaya agar proses belajar mengajar formal kembali bisa berjalan di awal Januari 2026,” terangnya.

Ia menambahkan pembukaan kembali sekolah tidak hanya berkaitan dengan keberlanjutan pendidikan formal, tetapi juga berperan dalam mendukung pemulihan kesehatan dan kondisi psikososial anak-anak di wilayah terdampak bencana.

“Kemudian kesehatan, dan terutama kesiapan dari sektor pendidikan, karena kita tahu saat ini masih libur, tetapi pada umumnya sekolah akan kembali buka di minggu pertama bulan Januari. Ini tentu saja menjadi perhatian kita bersama, karena aktivitas belajar-mengajar bagi anak sekolah juga akan memberikan nuansa dan bantuan serta dukungan psikososial yang juga sangat penting untuk kita perhatikan,” tuturnya.

Basarnas Hentikan Pencarian

Sementara, Badan SAR Nasional (Basarnas) menyatakan operasi pencarian korban bencana banjir di sejumlah wilayah terdampak di Provinsi Aceh dihentikan.

Kepala Basarnas Banda Aceh Ibnu Harris Al Hussain mengatakan operasi pencarian dialihkan kepada operasi pemantau karena dalam beberapa hari terakhir tidak penemuan korban bencana.

“Operasi pencarian yang sejak sebulan dilakukan dihentikan dan dialihkan ke operasi pemantauan. Dalam beberapa hari terakhir operasi pencarian tidak membutuhkan hasil,” kata Ibnu di Banda Aceh, Kamis (25/12), dikutip dari Antara.

Ibnu menyebut operasi pencairan korban bencana banjir di Aceh sudah berlangsung selama 31 hari. Tepat hari ini operasi pencarian berakhir.

Menurutnya, hingga kini masih ada 31 orang yang dinyatakan hilang. Dengan waktu sebulan sejak bencana, kecil kemungkinannya korban hilang tersebut selamat.

“Waktu bertahan seseorang dalam kondisi bencana paling lama tujuh hari. Kini sudah 31 hari pascabencana, sehingga kecil kemungkinannya mereka yang dinyatakan hilang dalam kondisi selamat,” katanya.

Kendati pencarian langsung dihentikan, kata dia, operasi tetap berjalan. Operasi dilakukan dengan pemantauan dan jika ada korban ditemukan, tim SAR langsung turun ke lapangan.

“Kami juga mengimbau masyarakat jika menemukan korban segera melaporkan guna proses evakuasi. Saat ini tim SAR tetap siaga dan terus melakukan pemantauan di lokasi bencana,” ujar Ibnu.

Perpanjang Tanggap Darurat

Pemerintah Provinsi Aceh resmi memperpanjang masa tanggap darurat bencana banjir dan tanah longsor hingga 8 Januari 2026. Hari ini tepat 1 bulan bencana tersebut memporak-porandakan Tanah Rencong.

Perpanjangan itu berdasarkan situasi di sejumlah daerah yang masih banyak membutuhkan penanganan cepat baik itu penyaluran logistik hingga hak dasar lainnya.

“Status tanggap darurat bencana diperpanjang selama 14 hari ke depan sejak tanggal 26 Desember 2025 hingga 8 Januari 2026,” kata Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, Kamis (25/12).

Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem, kata Muhammad MTA juga menginstruksikan kepada Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) untuk mempercepat distribusi logistik ke masyarakat yang terisolir.

Kemudian untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak dan memfungsikan seluruh fasilitas layanan kesehatan mulai dari Puskesmas.

Mualem juga menginstruksikan agar anak-anak penyintas bencana diberikan perlengkapan sekolah agar bisa mengikuti proses belajar.

“Pada perpanjangan tanggap darurat ke-2 ini, kepada seluruh SKPA untuk menjalankan tupoksinya secara baik dan terfokus dan massif dalam menjalankan kegiatan penanganan tanggap darurat,” katanya.

Dari data posko tanggap darurat bencana Aceh update Kamis (25/12) pukul 20:45 WIB, jumlah korban meninggal dunia mencapai 504 jiwa dan 31 dinyatakan hilang.

Kemudian 343.387 jiwa masih mengungsi di 2.174 titik pengungsian. Lalu 133.534 unit rumah rusak dan fasilitas umum jembatan 492 rusak, 1098 titik jalan rusak, 600 sekolah rusak dan 232 unit perkantoran rusak. (*)

Awaluddin Awe

Sumber : CNNIndonesia
Awaluddin Awe