JAKARTA – Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia mengesankan dalam beberapa tahun terakhir, kemiskinan dan ketimpangan pendapatan tetap menjadi masalah signifikan di Indonesia.
Hal ini dikatakan doktor filsafat dari Universitas Indonesia, Satrio Arismunandar ketika mengomentari diskusi bertema Nusantaranomics untuk Keadilan yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang dipimpin oleh penulis senior Denny JA Kamis 13 April 2023 malam.
Webinar yang topiknya dikomentari Satrio Arismunandar itu menghadirkan Prof. Didin S Damanhuri, Guru Besar Ekonomi Politik IPB sebagai narasumbernya.
Satrio Arismunandar memaparkan, kemiskinan dan ketimpangan pendapatan ini sebagian besar disebabkan oleh fakta bahwa sebagian besar pertumbuhan ekonomi terkonsentrasi di daerah perkotaan, meninggalkan daerah pedesaan dan penduduk yang kurang beruntung.
“Mengatasi ketimpangan ekonomi merupakan tantangan yang kompleks dan beragam, yang membutuhkan kombinasi solusi kebijakan dan perubahan sosial,” ungkap Satrio.
“Problem lain adalah akses kredit yang terbatas. Banyak usaha kecil dan menengah di Indonesia memiliki akses kredit yang terbatas, yang dapat membatasi kemampuan mereka untuk berinvestasi dalam pertumbuhan dan pembangunan,” tutur Satrio.
Menurut Satrio, korupsi juga merupakan masalah yang signifikan di Indonesia, dan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi maupun lingkungan bisnis.
“Ini dapat mencakup masalah penyuapan, nepotisme, dan bentuk perilaku tidak etis lainnya,” tegas Satrio, yang disertasi S3-nya di UI tentang budaya korupsi elite politik di Indonesia.
Indonesia juga menghadapi tantangan yang signifikan dalam pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. “Hal ini dapat membatasi kemampuan negara untuk menarik investasi dan menciptakan tenaga kerja terampil,” lanjut Satrio.
Selain itu, ada masalah lingkungan peraturan yang lemah. “Lingkungan peraturan di Indonesia bisa lemah dan tidak konsisten, yang dapat menimbulkan ketidakpastian bagi bisnis dan investor,” jelas Satrio.
Indonesia juga memiliki ketergantungan pada ekspor komoditas. “Khususnya pada sumber daya alam seperti minyak, gas, dan batu bara. Hal ini dapat membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global,” ujar Satrio. ***







