Diskusi SATUPENA, Azmi Abubakar: Diskriminasi Terhadap Tionghoa Berasal dari Informasi Sesat Warisan Orde Baru

  • Bagikan

JAKARTA – Diskriminasi oleh masyarakat terhadap warga Tionghoa berasal dari ketidaktahuan. Informasi yang tersedia sangat minim, dan informasi yang sudah minim itu sesat pula. Hal itu dinyatakan oleh Azmi Abubakar, Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa.

Azmi Abubakar menyatakan itu dalam Webinar di Jakarta, Kamis malam, 25 Januari 2023. Webinar itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai Denny JA. Diskusi Satupena itu dipandu oleh Anick HT dan Amelia Fitriani.

Azmi Abubakar menuturkan, informasi tentang Tionghoa yang minim dan sesat itu terjadi di era rezim Orde Baru. Sehingga ketika terjadi krisis moneter dan ekonomi menjelang reformasi 1998, warga Tionghoa yang dituduh sebagai penyebab dan disalahkan.

Azmi menjelaskan, kerusuhan rasial terhadap warga Tionghoa yang terjadi pada 13-14 Mei 1998 menjadi salah satu pendorong bagi dirinya, untuk merintis berdirinya Museum Pustaka Peranakan Tionghoa.

Azmi menyesalkan, serangan rasial terhadap warga Tionghoa pada 13-14 Mei itu seharusnya tak perlu terjadi, jika masyarakat memiliki informasi yang benar tentang peran dan kontribusi warga Tionghoa pada Indonesia.

Hal kedua yang mendorong langkah Azmi adalah bencana tsunami yang pernah menimpa Aceh dan menewaskan sekitar 200.000 orang. “Masyarakat Tionghoa membantu korban tsunami Aceh dan selama bertahun-tahun mendampingi pemulihan Aceh,” ujar pria asal Aceh ini.

Azmi berpendapat, obat mengatasi diskriminasi itu adalah lewat pemberian informasi yang benar. “Diskriminasi terjadi karena informasi yang terbatas, bahkan sesat pula,” tegasnya.

Oleh karena itulah, Museum Pustaka Peranakan Tionghoa berfokus pada pengumpulan dan penyebaran informasi yang benar tentang warga Tionghoa.

“Sejak mendirikan museum ini, saya menolak bantuan dari siapapun. Orang Tionghoa tidak boleh membantu. Pemerintah juga tidak boleh bantu. Anggaran untuk karyawan dan tempat ini dari kocek saya sendiri,” lanjut Azmi, yang punya bisnis konstruksi.

SIMAK JUGA :  Pelukis Muda Hamdi Mubarak Pameran Tunggal di Caffeshop KopiDent Kota Pariaman

Azmi memberi contoh informasi yang tak banyak diketahui orang. Yaitu, warga Tionghoa pernah menjadi para pemain utama sepak bola di Indonesia. Empat pemain paling top adalah warga Tionghoa. Jadi, bukan cuma di cabang bulu tangkis. Ini sebelum era Orde Baru.

Di era diskriminasi oleh Orde Baru, warga Tionghoa membatasi diri di olahraga yang mengandalkan individualitas, bukan kerja sama tim seperti sepakbola. Karena mereka takut selalu disalahkan. ***

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *