Diskusi SATUPENA, Satrio Arismunandar: Pameran Lukisan dan Karya Seni Visual Sarana untuk Ekspresikan Kritik Politik

  • Bagikan
Satrio Arismunandar

HARIANINDONESIA.ID – Memakai pameran lukisan dan karya seni visual untuk mengekspresikan kritik politik dapat menjadi cara yang ampuh dan berdampak.

Hal itu dikatakan Sekjen SATUPENA, Satrio Arismunandar ketika mengomentari diskusi tentang kritik politik dalam pemeran lukisan dan karya seni visual di Jakarta, Kamis, 8 Februari 2024 malam.

Diskusi itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai penulis senior Denny JA.

Diskusi yang dikomentari Satrio Arismunandar itu menghadirkan Slamet Hendro Kusumo, Ketua Dewan Penasihat Satupena Jawa Timur sebagai nara sumber.

Menurut Satrio, ada beberapa cara seniman dalam mengekspresikan kritik politik secara efektif, melalui pameran lukisan dan karya seni visual.

“Seniman dapat menggunakan simbol dan metafora untuk mewakili tema politik dan aspek kritik masyarakat,” ujarnya.

“Dengan menggunakan simbol-simbol yang dapat diterima oleh pemirsa, para seniman dapat menyampaikan pesan-pesan politik yang kompleks dengan cara yang menarik secara visual,” katanya.

Selain itu, ujar Satrio, unsur satire dan ironis dapat dimasukkan ke dalam karya seni untuk menonjolkan kontradiksi, kemunafikan, dan absurditas dalam politik dan masyarakat.

“Melalui humor dan kecerdasan, seniman dapat secara efektif mengkritik tokoh politik, kebijakan, dan institusi,” lanjutnya.

Ditambahkan oleh Satrio, pameran lukisan dan karya seni visual dapat menceritakan kisah dan narasi yang membahas isu-isu politik dan ketidakadilan.

“Seniman dapat menciptakan citra provokatif dan kontroversial yang menantang persepsi pemirsa, serta menghadapkan mereka dengan kebenaran yang tidak menyenangkan tentang politik dan dinamika kekuasaan,” tuturnya.

Satrio juga menggarisbawahi pentingnya keterlibatan komunitas. Pameran lukisan dan proyek seni visual dapat berfungsi sebagai platform untuk keterlibatan dan aktivisme komunitas.

“Seniman dapat berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk menciptakan karya seni yang menjawab keprihatinan bersama dan memobilisasi aksi kolektif seputar isu-isu politik,” tambahnya.

SIMAK JUGA :  Jika Transportasi Bagus, Mentawai Dapat Keluar dari Daerah Tertinggal

“Seniman dapat mengeksplorasi interseksionalitas isu-isu politik, termasuk ras, gender, kelas, dan identitas, melalui karyanya,” tambah Satrio.

Satrio menyimpulkan, secara keseluruhan, pameran lukisan dan karya seni visual memberikan para seniman platform yang kuat untuk mengekspresikan kritik politik, meningkatkan kesadaran tentang isu-isu sosial, dan menginspirasi tindakan kolektif untuk perubahan positif.

“Dengan memanfaatkan kekuatan emosi dan komunikatif seni, seniman dapat memainkan peran penting dalam membentuk wacana publik dan menantang status quo,” ujarnya. (K) ***

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *