Diskusi SATUPENA, Satrio Arismunandar: AI Sulit Memahami Konteks dan Emosi Puisi

  • Bagikan
Satrio Arismunandar (harianindonesia/kiriman)

HARIANINDONESIA.ID – Aplikasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) masih sulit nemahami konteks dan ekspresi emosi dalam mengubah puisi menjadi lagu.

Hal itu dikatakan Sekjen SATUPENA, Satrio Arismunandar menanggapi diskusi bertema Ketika Kata dan Nada Berjumpa di Jakarta, Kamis, 11 Juli 2024 malam yang diselenggarakan Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai penulis senior Denny JA.

Diskusi yang dikomentari Satrio Arismunandar itu menghadirkan narasumber Nia Samsihono, Ketua Satupena DKI Jakarta.

Satrio Arismunandar menuturkan, mengubah puisi menjadi lagu memakai AI adalah proses yang kompleks dan melibatkan beberapa tantangan.

“Puisi sering kali memiliki makna yang mendalam dan kontekstual, yang bisa sulit untuk dipahami oleh AI. Memahami konteks budaya, sejarah, dan personal yang mendasari puisi merupakan tantangan besar,” katanya.

“Selain itu, puisi sering mengandung nuansa emosional yang kompleks. AI kesulitan dalam menangkap dan mengekspresikan emosi yang tepat dalam melodi dan aransemen musik,” tambahnya.

Ia menjelaskan, puisi dapat memiliki berbagai macam struktur dan ritme yang unik. Menyesuaikan melodi dan musik agar sesuai struktur yang tidak standar bisa menjadi sulit bagi AI.

Menurutnya, mengubah puisi menjadi lagu melibatkan integrasi multimodal, yang terdiri dari pemrosesan multimodal dan koherensi antarmodal.

“Mengintegrasikan teks, suara, dan musik dalam satu kesatuan yang harmonis memerlukan kemampuan pemrosesan multimodal yang canggih,” ujarnya.

“Sedangkan, koherensi antarmodal berarti memastikan bahwa semua elemen –lirik, melodi, aransemen– bekerja sama secara koheren dan mendukung satu sama lain untuk menciptakan pengalaman musikal yang utuh,” tambahnya.

Ia menjelaskan, setidaknya ada empat teknologi yang terlibat dalam mengubah puisi menjadi lagu.

Pertama, natural language processing (NLP), untuk memahami dan menganalisis teks puisi.

Kedua, machine learning, untuk mempelajari pola dari dataset musik dan puisi.

SIMAK JUGA :  Satsabhara Polres Katingan Cek 2 Pangkalan LPG

Ketiga, deep learning, memakai model jaringan saraf dalam menghasilkan melodi dan suara vokal.

Kempat, text to speech dan speech synthesis. Ini adalah teknologi yang memungkinkan AI untuk menyanyikan teks.

“Dengan kemajuan teknologi AI, transformasi puisi menjadi lagu menjadi lebih mudah dan lebih kreatif, memungkinkan kolaborasi antara manusia dan mesin dalam menciptakan karya seni yang unik,” kata Satrio. (K) ***

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *