Foto udara Pelabuhan Teluk Bayur terlihat sangat cantik. Pelabuhaan yang dulu bernama Emma Havven ini, kini berubah menjadi pelabuhan total ekspor dengan komoditi andalan CPO. (FOTO : Corcom Pelindo Regional 2 Teluk Bayur)
PADANG (PADANG (HARIANINDONESIA.ID) – PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 2 Cabang Teluk Bayur ternyata telah melakukan transformasi secara penuh pelabuhan Teluk Bayur menjadi total pelabuhan ekspor. Sampai 2025 total ekspor CPO dari Teluk Bayur sudah mencapai 3,1 juta ton.
Bahkan, salah satu tenant terbesar Pelindo Teluk Bayur yakni Apical tahun ini meningkatkan kapasitasnya dengan penambahan kapasitas sampai dengan 1 juta per tahun.
“Kami terus berupaya meningkatkan kualitas layanan dengan mengoptimalkan kegiatan operasional yang efisien sesuai kebutuhan pelanggan,salah satunya dengan program elektrifikasi alat bongkar muat yang telah selesai dilakukan” ujar General Manager PT Pelindo Regional 2 Teluk Bayur Ferrial Dunan Sidabutar, Senin (11/3/2026).
“Dengan demikian, dapat kami sampaikan bahwa Pelabuhan Teluk Bayur tidak mengalami stagnasi, tetapi terus bertumbuh menjadi pelabuhan ekspor yang modern dan berkelanjutan,” papar putra Padang Panjang berayah Tapanuli ini.
Berdasarkan data PT Pelindo Regional 2 Teluk Bayur, jumlah kunjungan kapal dan volume angkutan, serta penggunaan peti kemas dan non peti kemas di Pelabuhan Teluk Bayur terus mengalami peningkatan.
Sebagai contoh, pada tahun 2022 jumlah kunjungan kapal hanya sebanyak 2.422 unit, dengan kapasitas 12,778,264 GT, pemakaian peti kemas 105,746 Teus dan non peti kemas sebanyak 5,542,382 Teus.
Lalu, pada tahun 2025 jumlah kunjungan kapal naik menjadi 2.631 unit dengan kapasitas kapal naik juga jadi 12,803,670 GT, serta peti kemas naik pula menjadi 118,053 ton, begitu pula non peti kemas naik jadi 2,417,310 Teus.
Nilai Ekspor Sumbar.
Dari data lain disebutkan bahwa Nilai ekspor melalui Pelabuhan Teluk Bayur sepanjang tahun 2025 mencapai Rp42 triliun, naik Rp9 triliun dari Rp33 triliun pada 2024. Komoditas utama adalah produk sawit dan turunannya.
Ekspor Sumatera Barat secara keseluruhan pada 2025 sekitar US$2,77 miliar (naik 27,64% dari 2024), dengan sebagian besar melalui Teluk Bayur (US$2,606 miliar Jan-Des).
Pelabuhan ini mendominasi arus ekspor provinsi, terutama CPO ke Myanmar, India, Pakistan, dan Bangladesh.
Nilai ekspor Minyak sawit mentah (CPO) mencapai US$666,35 juta,
RBD palm olein (liquid fractions) US$947,42 juta dan
Refined palm oil US$569,39 juta.
Penerimaan negara dari bea cukai di Teluk Bayur kuat, seperti Rp911 miliar pada Q1 2025 (naik 7x YoY) dan Rp1,1 triliun hingga pertengahan tahun.
Ekspor UMKM
Dalam kesempatan yang sama GM Pelindo 2 Teluk Bayur, Ferrial Dunan Sidabutar juga menjelaskan tentang kegiatan ekspor UMKM asal Sumbar melalui petikemas.
Menurut dia, realisasi ekspor UMKM asal Sumbar melalui petikemas masih relatif kecil dibandingkan volume petikemas domestik.
Dari total 118.000 Teus penggunaan peti kemas, terdapat sekitar 4 persen petikemas ekspor yang juga merupakan produk UMKM.
Meskipun volume ekspor UMKM Sumbar masih relatif kecil, namun PT Pelindo 2 Teluk Bayur tetap melayani permintaan pengiriman ekspor dengan melalui transhipment di Pelabuhan Tanjung Priok yang kemudian dilanjutkan ke negara tujuan. (*)
Awaluddin Awe







