Sekjen PDIP Kampanye di Lampung, Buka Kartu Ganjar Pranowo : Mengapa Diberi Gelar Presiden Rakyat

Momen Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto berbicara di depan ribuan massa pada kampanye Ganjar Mahfud di Lapangan Kampung Sawah Brebes, Bandarlampung, Minggu, (29/1/2024). (Foto : TPNGM)

Bandarlampung- HarianIndonesia.id :

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto Kampanye di depan ribuan massa di Lampung, dan membuka rahasia mengapa Capres Ganjar Pranowo dipanggil Presiden Rakyat.

“Pak Ganjar Pranowo dipanggil sebagai presiden rakyat karena berasal dari kalangan rakyat biasa yang ketika terpilih akan mewujudkan program-program kerakyatan,” ujar Hasto saat kampanye terbuka di Lapangan Kampung Sawah Brebes, Bandarlampung, Minggu, (29/1/2024).

Penyanyi yang juga caleg PDIP Elfonda Mekel atau lebih populer dipanggil Once Mekel ikut hadir bersama Hasto untuk menghibur massa. Once membuka penampilannya dengan lagu Kebyar-kebyar.

Ketua Tim Pemenangan Daerah Ganjar-Mahfud, Edward Syah Pernong, perwakilan tiga parpol pengusung Ganjar dan Ketua DPD PDIP Sudin juga terlihat di panggung dan ikut menemani Hasto saat simulasi pencoblosan paslon nomor urut 3.

Hasto mengawali orasinya dengan menyampaikan salam dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Dia menyebut Megawati selalu memikirkan bagaimana bangsa ini bisa hebat, bisa berdikari, bagaimana petaninya bisa makmur, bagaimana petaninya cukup pupuk, memiliki benih-benih unggul bagi membangun kedaulatan pangan kita.

“Untuk itu, Ibu Megawati telah menetapkan, dengan dukungan PPP, Perindo, Hanura dan PDIP, serta dukungan para relawan terhadap seorang pemimpin yang betul-betul menjadi presiden rakyat, dia adalah Ganjar Pranowo,” kata Hasto.

“Jadi, Pak Ganjar adalah presiden rakyat. Pak Ganjar berpihak pada wong cilik. Kenapa? Karena Pak Ganjar berasal dari kita, Ganjar Pranowo adalah kita. Beliau dari kalangan rakyat biasa, Pak Ganjar bukan dari kalangan elit, Pak Ganjar dari rakyat dari saudara-saudara sekalian,” tambah Hasto.

Maka, Hasto mengatakan Megawati berpesan, memilih pemimpin itu harus hati-hati. Lalu, Hasto mengutip Bung Karno yang mengatakan, kaum perempuan adalah jalan peradaban Indonesia Raya kita.

“Indonesia maju kalau perempuannya maju. Kenapa? Karena dari perempuan kita mempersiapkan anak-anak dari rahim ibu, agar gizinya cukup. Maka Pak Ganjar tahu, ketika Pak Ganjar blusukan di tengah rakyat, bahkan tidur di rumah-rumah rakyat, Pak Ganjar menerima dan mendengar masukan dari para ibu. Betapa dari kandungan ibu-ibu akan lahir anak-anak yang sehat, yang pintar, yang hebat, apabila cukup gizi. Apabila bantuan dari negara tepat sasaran,” urai Hasto.

Dalam blusukan Ganjar melihat masih banyak anak yang belum mendapat kesempatan sekolah, masih banyak anak yang belum mendapatkan gizi yang cukup bagi kemajuan bangsa ini, sehingga Ganjar melihat bahwa bantuan-bantuan yang sering salah sasaran itu harus disempurnakan.

Ganjar tahu bahwa suara rakyat adalah kebenaran tertinggi dalam menentukan pemimpin masa depan.
Maka syaratnya Indonesia akan makmur apabila wong cilik diperhatikan terlebih dahulu, apabila wong cilik dari bayi bayi yang ada dalam kandungan mendapatkan gizi yang cukup terlebih dahulu.

Maka Kartu Pintar saja tidak cukup, Kartu Indonesia Sehat saja tidak cukup, PKH saja tidak cukup, Bansos, BLT semuanya penting bagi wong cilik.

“Oleh karena itu, Ganjar memiliki program yang namanya KTP Sakti. Satu kartu terpadu Indonesia. KTP Sakti ini adalah kartu terpadu dari seluruh program yang baik pemerintahan Jokowi. Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, Pra Kerja, Bansos, BLT yang sebelumnya banyak yang salah sasaran, maka oleh kepemimpinan Pak Ganjar- Prof. Mahfud nanti akan dijadikan satu menjadi KTP Sakti,” papar Hasto.

Ditegaskan Hasto, 17 hari lagi 14 Februari 2024 rakyatlah yang berdaulat menentukan pemimpinnya. Maka 17 hari ke depan gunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk turun ke bawah, perkenalkan lah KTP Sakti ini ketika saudara turun ke bawah, ketuklah pintu-pintu rakyat, karena kita tahu, bahwa yang namanya rakyat akan memilih pemimpin yang berprestasi, pemimpin yang jujur, pemimpin yang berasal dari rakyat, bukan dari kalangan elit.

SIMAK JUGA :  Walikota Cimahi Ditangkap KPK

Sampaikan 3 Pesan Ganjar

Hasto Kristiyanto meminta para kader partai politik pendukung, sukarelawan, simpatisan, dan pendukung untuk memenangkan paslon nomor urut tiga di Pilpres 2024.

Hasto menyampaikan tiga pesan Ganjar untuk dilakukan para pendukung jelang 17 hari jelang pencoblosan pada 14 Februari 2024 mendatang.

Pertama, 17 hari ke depan bergerak ke bawah menyatu dengan kekuatan rakyat.

Kedua, siapkan saksi pemilu dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan suara kita dicolong. Jangan biarkan suara Ganjar-Mahfud dicuri. Kami minta bantuan PDI Perjuangan, Perindo, Hanura, PPP untuk didukung.

“Ketiga, ajari rakyat mencoblos yang baik. Yaitu nomor satu dibuka saja, nomor dua dilihat, nomor tiga dicoblos, coblos rambut putih,” kata Hasto.

Hasto meyakini rakyat Lampung adalah masyarakat yang sadar politik. Masyarakat Lampung melek secara politik yang tidak membiarkan berbagai bentuk pengerdilan suara rakyat terjadi.

“Karena itu sekali lagi pesan dari Ganjar-Mahfud 17 hari ke depan kita buktikan bahwa kekuatan rakyat adalah kekuatan rakyat. Mengapa saya tekankan ini? Karena pasangan nomor 2 sana Prabowo-Gibran didukung oleh lebih dari 30 persen pengusaha yang menyumbang perekonomian nasional, sementara Ganjar Mahfud di dukung pergerakan rakyat,” kata Hasto.

Sekretaris Jenderal PDIP itu menambahkan kekuatan Ganjar-Mahfud terletak pada kekuatan rakyat, wong cilik. Kekuatan Ganjar-Mahfud terletak pada gotong royong dari seluruh rakyat Indonesia.

“Saat ini yang terpenting datangi rakyat, jangan melihat hasil survei karena sudah dimanipulasi. Lihat saja sentimen positif kepemimpinan paslon 03 yang paling tinggi,” kata Hasto

Dia meyakini sentimen positif terhadap Ganjar-Mahfud terbesar. Sebab, Ganjar-Mahfud tidak pernah terlibat hukum, melanggar etika, dan berasal dari keluarga yang baik-baik saja.

‘Untuk memimpin Indonesia harus dibuktikan memimpin keluarga dulu. Sanggup atau tidak. Kalau memimpin keluarga saja tidak sanggup jangan memimpin Indonesia raya yang besar ini saudara-saudara sekalian,” kata Hasto.

Si Rambut Putih dan Pendekar Hukum

Hasto menambahkan, untuk memimpin Indonesia yang begitu besar dengan penduduk di atas 270 juta jiwa maka diperlukan pemimpin yang kokoh di dalam prinsip, punya pengalaman, memegang etika, yang didasarkan pada moral dan kebenaran.

Disebutnya, akhir-akhir ini para mahasiswa bergerak, kelompok-kelompok pro demokrasi bergerak, karena mereka melihat mulai ada penyalahgunaan kekuasaan hanya untuk ambisi kekuasaan itu, hanya untuk ambisi memperpanjang kekuasaan tiga periode.

“Karena itulah sudah saatnya Indonesia dipimpin oleh rambut putih dan pendekar hukum. Perpaduan antara Pak Ganjar dan Prof Mahfud MD,” sebut Hasto.

Menurut Hasto, pendukung paslon nomor urut perlu bekerja keras, dan memeras keringat karena berbeda dengan paslon lainnya.

“Karena Pak Ganjar dan Prof Mahfud tidak bisa sendirian. Pak Ganjar dan Prof Mahfud tidak punya harta triliunan. Karena Ganjar-Mahfud adalah kita, Pak Ganjar adalah presiden rakyat, presiden wong cilik akan fokus pada masalah ekonomi, ekonomi, dan ekonomi. Sementara Prof Mahfud fokus pada hukum yang berkeadilan kepada rakyat,” lanjut Hasto.

Berbeda dengan yang lain punya dana banyak, triliunan, bansosnya luar biasa.

“Pak Ganjar tidak punya beras berton-ton, Pak Ganjar tidak punya harta triliunan. Tetapi Pak Ganjar punya komitmen pada nasib bangsa ini ke depan, nasib rakyat kita semuanya. Untuk itu kami mengharapkan H-17 ini mari kita bergerak turun ke bawah, tiada hari tanpa bergerak door to door, tidak hari tanpa pergerakan mendatangi pintu-pintu rakyat,” ajak Hasto sambil meminta agar tidak mudah untuk tunduk pada berbagai intimidasi.

Dia meyakinkan bahwa 17 juta lapangan kerja bagi rakyat yang akan diciptakan oleh Ganjar-Mahfud.

“Kemudian untuk 1 keluarga miskin 1 sarjana yang menjadi program unggulan dari Ganjar-Mahfud. Serta KTP Sakti untuk disosialisasikan,” ujar pria asal Yogyakarta itu. (*)

Editor : Awaluddin Awe.