Kesepakatan Pemerintah, Warga tetap Tinggal di Rempang tetapi Digeser Dikit dari Proyek Eco City

  • Bagikan

JAKARTA (HarianIndonesia.id) :

Pertemuan Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dengan tokoh masyarakat Rempang memutuskan warga akan tetap dipertahankan tinggal di Pulau Rempang tetapi agak digeser di luar kawasan Eko City.

“Sesuai keputusan musyawarah dengan tokoh masyarakat Rempang maka setiap warga tempatan (asli) tetap akan dipertahankan tinggal di Pulau Rempang, tetapi yang datang kudian (menyusul) maka kita kita persilahkan keluar,” papar Bahlil di depan warga Rempang di sebuah tempat di Pulau Rempang seperti dirilis oleh sebuah video, pekan ini.

Bahlil terlihat bersemangat dan sempat menyebut dirinya juga sebagai orang kampung, mengatakan bahwa pengertian tetap tinggal di Pulau Rempang itu bukanlah relokasi, tetapi digeser sedikit dari kawasan Eco City, bukan ke Pulau Galang seperti rencana semula.

Alasan Bahlil, Pulau Rempang memiliki areal cukup luas yakni 17.000 hektar. Sementara 10.000 hektar diantaranya adalah merupakan hutan lindung. Berarti hanya ada 7.000 hektar yang bisa dikembangkan menjadi kawasan investasi.

“Tetapi untuk tahap pertama kita hanya butuh 2.000 sampai dengan 2.500 hektar untuk pembangunan kawasan industri,” papar Bahlil.

Kawasan industri ini, kata Bahlil, sudah diminati oleh Xinyi Group yang akan berinvestasi untuk pembangunan pabrik kaca dan panel surya terintegrasi senilai US$11,5 miliar atau setara Rp174 triliun.

Tentang masuknya investasi asal China ini saat Bahlil berdialog dengan warga, mereka tidak menolak. Bahkan mereka senang anak anak dan keluarga mereka bisa bekerja di perusahaan itu nantinya dan mengambil manfaat atas kehadiran perusahaan tersebut.

Oleh sebab itu, mereka meminta kepada Bahlil agar tetap bisa tinggal di ranah leluhur mereka. Dan pemerintah kemudian memenuhi permintaan itu tetapi lokasi tempat tinggal mereka digeser dari lokasi awal ke tempat masih di Pulau Rempang juga.

Sementara itu, janji pemerintah yang akan memberikan Rumah type 45 dengan nilai sekitar Rp120 juta tetap akan dibangunkan dalam rentang waktu 6 sampai 7 bulan.

Bahlil menegaskan, pemerintah akan menyiapkan hunian baru untuk 700 kepala keluarga yang terdampak pengembangan investasi di tahap pertama.

Sementara menunggu waktu konstruksi, warga akan diberikan fasilitas berupa uang dan tempat tinggal sementara.

“Start dimulai sekarang, kan kita sedang melakukan pendataan untuk mereka bisa bergeser, setelah itu langsung dibangun,” kata Bahlil seperti ditulis BisnisCom.

Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pengusahaan (BP) Batam memperpanjang pendaftaran pemindahan warga Pulau Rempang yang terimbas proyek Rempang Eco City dari jadwal semula yang seharusnya berakhir 20 September 2023.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol Badan Pengusahaan (BP) Batam Ariastuty Sirait, Selasa (19/9/2023).

SIMAK JUGA :  Indonesia Bisa Seperti India, Menkes BGS : Kasus Covid-19 Merangkak Naik

“Pendaftaran pertama tanggal 20 September 2023. Namun yang ini bersifat dinamis, kami mengikuti arahan dari pemerintah pusat saja,” katanya di Gedung BP Batam.

Begitu juga dengan rencana pengosongan tahap pertama, dimana batas akhirnya 28 September 2023. Lagi-lagi, Tuti menyebut masih akan melihat kondisi terbaru, sambil menunggu keputusan dari Jakarta. Sementara itu, ia juga menyebut bahwa jumlah warga yang sudah mendaftar untuk direlokasi baru sekitar 100 KK. “Sudah lebih dari 100 KK yang mendaftar,” ungkapnya.

Xinyi Bukan Perusahaan Besar

Sementara itu sebuah video berisi pernyataan Bossman Mardigu seperti dirilis Disway.id menyebutkan bahwa kapitalisasi perusahaan Xinyi tidak sebesar yang disebutkan pejabat Indonesia, termasuk Bahlil.

Bossman menyebut bahwa Xinyi tidak masuk dalam daftar 10 perusahaan produsen kaca terbesar di dunia. Net Chas Flownya hanya tercatat sebesar Rp41 juta USD pada tahun 2022. “Masa perusahaan sekecil itu bisa investasi senilai 11.5 USD di Pulau Rempang,” papar Bossman.

Menurut Bossman, Xinyi sebelumnya juga sempat mau berinvestasi untuk mendirikan pabrik kaca di Gresik Industrial Park, namun hingga saat ini tidak ada kabar berita dan progresnya.

Dari annual report yang diaudit oleh Eu Erns and Young’s ternyata penjualan Xinyi tidak sebesar omongan penjabat Indonesia.

Nilai property plan equipment 17.5 billion dollar Hongkong atau hanya 2.2 dolar Amerika dengan sales revenue 3.4 miliar dolar Amerika dan perjualan terbesarnya 68 persen adalah pasal lokal atau China dan bukan pasar dunia.

Bossman menjelaskan bahwa untuk investasi tersebut dari nilai equity yang dibutuhkan 30 persen dari 11.5 miliar dolar Amerikan rencana investasi dari Xinyi di Pulau Rempang yang setara dengan 3.45 miliar dolar Amerika.

“Dalam consolidate net cash flow mereka per 31 desember 2022, Xinyi hanya punya 0.4 miliar dolar Amerika atau hanya 41 juta dolar Amerika saja dan dari mana menutupi kekurangan kekurangan equity tersebut,” jelas Bossman.

Bossman juga mengatakan bahwa rencana pembanggunan pabrik kaca Xinyi di Rempang Eco City patut dipertanyakan karena hingga saat ini tidak adanya statemen dari Xinyi Glass tentang investasi 11.5 miliar dolar Amerika tersebut.

“Besarnya investasi itu hanya disebutkan oleh pejabat Indonesia saja, hal ini tidak jauh berbeda dengan pernyataan Opung untuk kerjasama dengan Tesla beberapa waktu lalu,” jelasnya. (*)

Awaluddin Awe
dari berbagai sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *