oleh

Guru Besar USU Tantang SBY Lapor Polisi

MEDAN ‐ Guru Besar Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Profesor Yusuf Leonard Henuk menyatakan tidak takut jika dilaporkan ke polisi. Yusuf pun menantang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berani melaporkan dirinya, tanpa diwakilkan.

“Jadi saya sudah Twit suruh SBY lapor. Dia rakyat biasa, kan? Dia tak punya hak untuk diwakilkan. Dia berani, enggak?” kata Yusuf Leonard Henuk, Rabu (13/1).

Hal ini terkait pernyataan Yusuf yang menyinggung SBY sebagai Bapak Mangkrak Indonesia dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai orang bodoh.

“Silakan dia mau bawa ke UU ITE, saya enggak masalah. Pengadilan kan bukan berarti habis. Kita masih ada banding dan kasasi. Saya bertahan pada posisi saya sebagai pendidik. Saya punya sumber bacaan kuat,” ujarnya.

Yusuf meminta Partai Demokrat tak ikut-ikutan terkait polemik ini. Sebab hal ini merupakan masalah pribadinya dengan SBY dan AHY. Seharusnya, kata Yusuf, SBY dan AHY menanggapi pernyataannya di medsos.

“Saya dan SBY kan kapasitas kami berdua sebagai profesor, seharusnya dia tanggapi saya. Kemudian kita klarifikasi salahnya di mana. Kalau misalnya dia enggak setuju saya bilang Bapak Mangkrak, oke,” ujar Yusuf.

“Kalau saya salah, saya minta maaf. Tapi kan sampai sekarang dia hilang. Dan malah menyuruh Demokrat menghantam saya. Kemudian ingat USU sudah klarifikasi bahwa itu masalah pribadi. Berarti Demokrat harus tahu bahwa itu masalah pribadi. Saya enggak kaitkan Demokrat di dalam itu, kok. Kami dua aja (SBY). Sedangkan AHY saya punya referensi kan jelas,” tambahnya.

Yusuf pun menantang apakah Partai Demokrat berani melaporkan dirinya ke polisi. Sebab menurutnya Partai Demokrat hanya bisa menggertaknya.

“Saya tahu mereka cuma gertak gertak. Saya juga siap, kok. Saya bukan bodoh. Saya sudah pernah tersangka dan masuk penjara makanya saya tahu masalah ini,” urainya.

Namun begitu Yusuf menyatakan tak akan tinggal diam. Jika Demokrat melaporkannya ke polisi, Yusuf mengancam akan melaporkan balik. Sebab kubu Partai Demokrat menyebutnya sebagai orang sakit jiwa dan profesor binatang.

“Divisi hukumnya bilang saya sakit jiwa. Lah, emang saya sakit jiwa? saya kan tidak sakit jiwa, saya masih sehat. Kemarin mereka bilang saya guru binatang. Saya sudah tanggapi ketua divisi hukumnya. Kenapa kamu bilang saya sakit jiwa? Kamu lapor, saya lapor juga to. Sudah kadung basah to, mau lari juga ke mana?” ungkapnya

Menurut Yusuf Demokrat salah besar jika menyebutnya tidak punya kompetensi untuk bicara. Sebab yang dipelajarinya selama ini bukan hanya masalah hewan saja.

“Saya sudah begini lama jadi guru besar, kemudian hanya belajar binatang saja? Kami di peternakan ada yang kami pelajari politik binatang. SBY juga S3 Pertanian, kan? Tahu apa dia? Saya juga S3. SBY kan S3 IPB berarti dia juga enggak punya kapasitas bicara, kan? Dia pertanian to,” katanya.

Menurut Yusuf, tak ada yang salah dengan cuitannya yang menyebut Presiden RI ke-6 SBY sebagai Bapak Mangkrak Indonesia dan AHY bodoh. Sebab menurutnya masyarakat juga sudah tahu hal itu. Namun, Yusuf menolak jika SBY dan AHY menyalahkan kinerja pemerintah terutama Jokowi.

“Kalau untuk SBY itu Bapak Mangkrak, bukan saya (yang bilang), justru orang sudah banyak yang tahu lah. Nah, tujuan dia kan mau salahkan pemerintah. Salah pemerintah di mana?” urainya.

Yusuf membantah bila sikapnya dianggap membela pemerintah karena ingin mendapat jatah menteri dari Presiden Jokowi. Menurutnya, Jokowi sudah diberi gelar Mandaleo Rote Ndao atau Raja Terbesar Orang Rote. Karena itu, siapapun yang mengusik Jokowi, dia mengaku marah. Sebab kata Yusuf, Jokowi sudah menjadi Raja bagi Suku Rote.

“Khusus Jokowi, dia itu kan pernah ke Rote, sebelum dia maju kedua kali ini. Kami gelari dia Mandaleo Rote Ndao. Lepas kalau dia presiden, kalau ada orang ganggu dia, saya terganggu. Saya marah. Saya orang Rote, sudah terikat dia (Jokowi) raja kami. Apapun saya harus bela. karena itu menyangkut suku kami,” bebernya.

Sebelumnya, Yusuf menyebut AHY bodoh. Dia mengatakan tidak ada pesawat jatuh di Indonesia karena kesalahan pemerintah.

“Yth Ketua Umum @PDemokrat, @AgusYudhoyono, @ProfYLH terpaksa harus buktikan memang kau BODOH sekali, karena sepanjang sejarah jatuhnya pesawat di Indonesia, tak pernah ada “GOVERNMENT ERROR” penyebabnya, tapi “7 FAKTOR”. Maaf kau bodoh turunan, belajar lagi AHY!” cuit @ProfYLH, Selasa (12/1).

Tak hanya itu, Yusuf Leonard Henuk juga membalas ciutan SBY dalam akun twitter pribadi @SBYudhoyono yang menyarankan pemerintah supaya bersikap disiplin dan berani menunda proyek strategis nasional (PSN).

Yusuf meminta SBY tidak mengajari Presiden Joko Widodo. Di situ dia menyebut SBY sebagai ‘Bapak Mangkrak Indonesia’.

“Yth. @SBYudhoyono, tahu dirilah kau sudah mantan jadi jangan sok mengajari @jokowi soal pembangunan proyek strategis nasional, karena kau memang gagal & telah dijuluki: “Bapak Mangkrak Indonesia”, jadi tak pantas kau ajari @jokowi “ikan berenang”, karena pasti malu kalipun kau, paham!” cuit @ProfYLH, Sabtu (9/1).

Kepala Badan Komunikasi Strategis (Bakomstra) DPP Partai Demokrat Ossy Darmawan menyatakan akan mempertimbangkan langkah menyeret Yusuf Leonard Henuk ke ranah hukum.

Tata Tanur

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed