Gerakan Aktivis 98 Tegaskan Mereka Bersama Anak anak yang Diintimidasi, Jangan Pakai Cara Orde Baru

ABE JUBIR GERAK 98

JAKARTA, Harianindonesia.id – Gerakan Aktivis 98 memberi pesan bahwa anak anak yang diintimidasi aparat ada bersama mereka, sekaligus mengingatkan tidak menggunakan cara Orde Baru untuk memenangkan Pilres.

“Anak anak yang diintimidasi itu, kami ada dibelakang mereka dan kami ingatkan jangan coba coba menggunakan cara cara Orde Baru memenangkan Pilpres. Sebab akan berbenturan dengan pihak yang menolak cara cara itu,” kata Juru Bicara Gerakan Akrivis (GERAK) 98 Abe dalam siaran Pers Gerak 98 di Jakarta, Jumat (1011/2023).

Pernyataan ini disampaikan Abe menanggapi sejumlah intimidasi dan aksi politik yang dilakukan di tahun Pemilu 2024.

Abe menyebut, Pola ini untuk merebut, mempertahankan, dan melipatgandakan kekuasaan sebangun dengan Era Orde Baru.

Menurut Abi, tindakan intimidasi aktivis, pemasangan dan “penggeseran” baliho yang viral cepat hingga daerah terpencil, hingga diksi patroli adalah pola-pola operasi abuse of power.

Dinamika politik seperti ini, katanya, mengulang apa yang terjadi 30 sampai 25 tahun lalu. Pola ini untuk merebut, mempertahankan, dan melipatgandakan kekuasaan sebangun dengan Era Orde Baru.

Abe mengingatkan kepada Aktivis Mahasiswa bahwa situasi ini justru memacu adrenalin dan menambah semangat perlawanan.

Dia juga menyebut ntensitas akan semakin keras dan menabrak kepatutan, adab, etika dan moral mendekati hari pencoblosan. Tidak menutup kemungkinan pola ini akan memasuki ruang personal.

“Kalau dulu, pendahulu mereka melakukan intimidasi dari kos ke kos, dibunuh dekat kampus seperti di Makassar 1996, sekarang malah orang tuanya sekalian diintimidasi. Janggal kalau ini tidak terstruktur, sistematis dan massif hingga hari pencoblosan. Kita semua tahu operasi ini menghamba pada siapa!”, ujarnya.

Disebutkan Abe bahwa Politik tidak berada di ruang hampa, politik tersusun, terencana dengan perhitungan yang sangat cermat, matang, dan output yang dihasilkan adalah kekuasaan.

SIMAK JUGA :  Jusuf Kalla: Pemindahan Ibu kota Negara akan Berdampak Positif bagi Perekonomian Daerah.

Wajah kekuasaan Orde Baru adalah kepentingan pragmatis, metodenya adalah menggunakan segala lembaga negara, dan membenturkan rakyat dengan rakyat bergerak atas nama “konstitusi” yang telah dicederai dan dikaburkan.

“Drama Mahkamah Keluarga Korea, Mahkamah Kong Kalikong yang ramai di dunia maya, adalah buah perlawan konstitusi yang telah tercederai. Jangan heran jika kebijakan ajaib pemulihan perekonomian dengan diksi bantuan sosial, pemantauan keamanan,
penggunaan masyarakat sipil yang dibenturkan dengan aktiis pro demokrasi dan lain sebagainya akan bermunculan,” tegas Abe, yang juga Sekretaris Jenderal Relawan Perjuangan Demokrasi ini.

Abe menambahkan perlawanan demokrasi kelam Orde Baru tergantikan dengan Era Reformasi, dan jangan coba-coba menggunakan pola yang sama (Orde Baru).

Sejarah panjang republik selalu menempatkan perlawanan gerak matchvorming (menghimpun) dan machtsaanwending (kekuatan) massa aksi teratur satu aksi atas nama perlawanan rakyat selalu berujung pada kemenangan.

“Kami adalah pelaku sejarah, bagaimana perlawanan gerak matchvorming (menghimpun) dan machtsaanwending (kekuatan) massa aksi teratur satu aksi atas nama perlawanan rakyat selalu berujung pada kemenangan menggulingkan Orde Baru. Jadi jangan sekali-kali dikira kita akan takut dengan pola-pola dzalim Orba itu. Tidak! Bahkan kalau kalian intimidasi anak-anak muda itu, kami bersama mereka!” kata Abe dengan tegas. (*)

Awaluddin Awe