
JAKARTA – Banjir longsor seperti 28 Nopember lalu, terjadi lagi di Kabupaten Agam dan Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026). Warga merasa ketakutan sebagai dampak banjir bandang lalu.
Tidak tanggung tanggung, sejumlah daerah di kabupaten Agam mengalami lima kali kena banjir bandang. Daerah tersebut Muaro Pisang Pasar Maninjau, Nagari atau Desa Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya.
“Sudah lima kali banjir bandang melanda Muaro Pisang Pasar Maninjau, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, semenjak Kamis pagi sampai sore,” kata Kapolsek Tanjung Raya AKP Muzakar di Lubuk Basung, Kamis (1/1), dikutip dari Antara.
Ia mengatakan banjir bandang terjadi secara berturut-turut sejak pukul 12.00 WIB, akibat longsor susulan terjadi di Kelok 28 dan Kelok 42.
Setelah itu berhenti dan material banjir bandang kembali turun berupa lumpur dan bebatuan menuju arah Pasar Maninjau atau Simpang Maninjau.
“Ini mengingat Sungai Muaro Pisang tertimbun material tanah, sehingga mengalir ke lokasi lain ke arah Simpang Maninjau,” katanya.
Material banjir, kata Muzakar, memasuki rumah warga sehingga merusak sejumlah rumah di lokasi tersebut.
“Warga sekitar telah mengungsi ke musala, rumah keluarga, dan fasilitas pemerintah, dengan jumlah sekitar 200 orang,” kata Muzakar.
Ia menambahkan alat berat yang bekerja membuang material banjir tersebut secara tentatif. Apabila banjir bandang susulan tidak terjadi, maka alat berat langsung bekerja dalam membuka akses jalan provinsi yang menghubungkan Lubuk Basung-Bukittinggi.
Namun saat banjir bandang kembali turun, kata dia, alat berat berhenti bekerja untuk sementara waktu.
Di hulu Sungai Muaro Pisang, Muzakar, masyarakat yang berada di lokasi diminta untuk memberitahukan apabila terjadi longsor susulan ke masyarakat yang ada di bawah.
“Saat tanah longsor terjadi, langsung dilaporkan ke bawah, sehingga pembersihan material dihentikan,” ujarnya.
Bupati Agam Benni Warlis menyatakan sebanyak 40 rumah terdampak banjir bandang akibat meluapnya Sungai Muaro Pisang Pasar Maninjau, Nagari atau Desa Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Agam, Sumatra Barat.
“40 unit rumah tersebut berada di sepanjang aliran Sungai Muaro Pisang. Material banjir bandang masuk ke rumah,” kata Benni di Lubuk Basung, Kamis (1/1).
Ia mengatakan rumah yang terdampak akan lebih banyak, karena air sudah melebar ke daerah lain setelah aliran sungai tersumbat material longsor, sehingga air mengalir ke lokasi lain ketika tidak hujan pada Rabu (31/12).
Setidaknya, lanjutnya, ada 200 orang mengungsi ke mushala, rumah keluarga, dan fasilitas pemerintah. Mereka ketakutan karena sudah lima kali terjadi semenjak akhir November 2025.
“Air sungai disertai material turun beberapa kali, setelah tanah longsor melanda hulu sungai. Kondisi ini kurang baik bagi mereka, karena saat mereka pulang ke rumah, ada bunyi dentuman di hulu sungai, sehingga mereka kembali mengungsi,” kata Benni.
Benni menambahkan kondisi ini mencekam karena aliran sungai sebelumnya sudah berpindah dan mengancam banyak rumah lain.
Sementara lokasi aliran sungai sudah aman mengingat air sungai mengering setelah aliran berpindah.
“Bagaimana kita mencarikan (solusi) masalahnya dan saat ini kita hanya menyelesaikan sungai yang tersumbat di hilir sungai apabila terjadi longsor,” ujarnya.
Benni mengatakan material banjir bandang menimbun satu alat berat yang sedang parkir. Terdapat empat alat berat yang di lokasi bencana, di luar yang tertimbun.
“Alat berat tersebut untuk membersihkan material banjir bandang yang menimbun badan jalan provinsi penghubung Lubuk Basung-Bukittinggi, sehingga jalan tidak bisa dilalui,” katanya.
Sebelumnya, satu unit rumah di Labuah Sampik, Jorong Ngungun, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat tertimbun tanah longsor, Selasa (30/12).
Longsor itu terjadi sekitar pukul 14.00 WIB yang mengakibatkan tiga penghuni rumah mengalami patah tulang dan luka-luka.
Koordinator Lapangan Basarnas Padang Atta Priyono di Lubuk Basung, Selasa, mengatakan ketiga korban atas nama Yusmaniar (68), Nayla (16) dan Indah (14).
“Nayla mengalami patah tulang pada kaki, sehingga dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lubuk Basung dan dua korban lainnya mengalami luka-luka sehingga dibawa ke Klinik Dewi Padang Tarok, Nagari Salareh Aia Utara, Kecamatan Palembayan,” katanya mengutip Antara.
Ia mengatakan, ketiga korban tertimbun material tanah longsor yang menimbun rumah korban. Saat kejadian, tambahnya korban berada di dalam rumah dan tanah longsor menimbun rumah korban.
Dia menyebutkan pihaknya mengalami Kendala dalam mengevakuasi korban, karena material tanah longsor masih turun, sehingga tim yang mengevakuasi yang berasal dari Basarnas, TNI, Polri dan masyarakat kesulitan evakuasi korban.
“Curah hujan cukup tinggi melanda daerah itu saat evakuasi korban tertimbun material tanah longsor,, sehingga material tanah longsor masih turun” katanya.
Selain itu, juga mengakibatkan material tanah longsor menimbun badan jalan beberapa titik tidak jauh dari lokasi rumah tersebut.
Sementara Kabag Operasional Polres Agam Kompol Bezaliel Mendrofa menambahkan badan jalan tertimbun material tanah longsor dan ada yang amblas sehingga arus lalu lintas jalan provinsi dari Padang Koto Gadang menuju Bukittinggi terputus.
“Kendaraan tidak bisa melewati daerah itu, karena ada dua titik tanah longsor,” katanya.
2.823 warga mengungsi
Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat mencatat sebanyak 2.823 warga masih mengungsi satu bulan pascabencana hidrometeorologi melanda daerah itu pada akhir November 2025.
“Ke 2.823 orang ini mengungsi di tempat yang disediakan, sekolah, tempat ibadah, kantor nagari atau desa, rumah keluarga dan lainnya,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Agam Roza Syafdefianti mengutip Antara, Senin (29/12).
Ia mengatakan ke 2 823 orang itu tersebar di Kecamatan Palembayan 728 orang, Palupuh 198 orang, Tanjung Raya 1.399 orang, Ampek Koto 12 orang, Matur 156 orang dan Malalak 330 orang. Mereka mengungsi setelah rumahnya mengalami rusak dampak bencana banjir bandang, tanah longsor dan banjir melanda daerah itu.
Setelah itu lokasi tempat tinggal mereka berada di zona merah, sepanjang aliran sungai dan lainnya.
“Mereka mengungsi setelah bencana merusak rumah mereka pada 26-27 November 2025,” katanya.
Ia menambahkan saat ini hunian sementara korban sedang proses pembangunan di lokasi yang disediakan. Pembangunan ditargetkan selesai dalam waktu dekat, sehingga mereka bisa menempati hunian sementara itu.
“Pembangunan hunian sementara sedang berlangsung melibatkan TNI di lapangan SDN 05 Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan,” katanya.
Bencana melanda daerah itu pada akhir November 2025 mengakibatkan 163 korban meninggal dunia, korban hilang 38 orang, masih dirawat dua orang, kerugian Rp4,20 triliun berasal dari nilai kerusakan Rp2,36 triliun dan kerugian Rp2,71 miliar.
Untuk pencarian korban hilang resmi dihentikan berdasarkan surat dan persetujuan dari para ahli waris, Senin (22/12).
Tanggap darurat diperpanjang dari 23 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026 untuk mematangkan persiapan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Aceh Tamiang
Banjir juga kembali menerjang Kampung (Desa) Raja, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, Aceh setelah tanggul sungai dilaporkan jebol. Air sungai meluap dan kembali merendam pemukiman penduduk setempat.
“Kampung kami banjir lagi akibat tanggul jebol belum diperbaiki,” kata tokoh pemuda wilayah Bendahara Hilir M Daud di Aceh Tamiang, Kamis (1/1), dikutip Antara.
M Daud menjelaskan insiden tanggul jebol di Kampung Raja itu terjadi pada Kamis sekitar pukul 18.00 WIB, dan pukul 21.00 WIB banjir semakin meluas.
Titik tanggul yang jebol tersebut berada di jalan penghubung antar Kecamatan Bendahara dan Seruway. Akhirnya air sungai meluap ke jalan dan kawasan permukiman yang sebelumnya sudah porak poranda diterjang banjir bandang kembali terendam.
“Dampak tanggul jebol, Kampung Raja yang kondisinya masih banyak orang mengungsi di tenda kembali terendam banjir,” ujarnya.
Banjir susulan ini diperkirakan warga kiriman dari wilayah hulu sungai akibat hujan deras di pegunungan.
M Daud mengungkapkan akibat banjir bandang pada 26 November 2025 lalu banyak titik tanggul sungai di pesisir Kecamatan Bendahara rusak dan belum sempat diperbaiki.
“Jebolnya sejumlah tanggul di pesisir Bendahara ini akibat banjir bandang November 2025, meliputi beberapa titik yaitu Kampung Raja, Lubuk Batil, dan Marlempang,” katanya.
“Hari ini kami merasa cemas apabila mendapat kabar intensitas hujan lebat di wilayah hulu, maka kampung-kampung di hilir bisa terendam banjir kembali karena tanggul penahan sungai sudah pada jebol,” tambah M Daud.
Terpisah Desa Selamat, Kecamatan Tenggulun, pada Rabu (31/12) malam kemarin juga terendam banjir akibat sungai objek wisata pemandian Gunung Pandan meluap.
Sementara itu Datok Penghulu (Kepala Desa) Kampung Selamat, Suherman, menyatakan banjir tidak berlangsung lama dan surut dalam hitungan jam.
“Air masuk kampung sampai kawasan tower saja mau ke arah Gunung Pandan. Banjir akibat hujan deras di wilayah atas. Tidak ada korban dan warga mengungsi, hanya banjir lewat,” kata Suherman. (*)
Sumber : CNNIndonesia
Awaluddin Awe







