Ganjar Ingatkan Gibran Hati-hati Ketanduk Banteng, Sementara Warga Bentangkan Spanduk Ganjar saat Jokowi ke Wonosari

Momen Capres Ganjar Pranowo kampanye di Pontianak. Dari sini Ganjar mengingatkan Gibran dan pemerintah dalam menggetarkan kandang banteng dan menyikapi ekspresi warga. (Foto : TPNGM)

PONTIANAK, Harianindonesia.id –

Eskalasi politik Pilpres makin memanas, khususnya antara Capres Ganjar Pranowo dan Capres 02 Gibran Rakabuming Raka, termasuk melibatkan orangtua kandungnya, Jokowi.

Pasalnya, Gibran membuat klaim telah “menggetarkan” Banteng saat berkampanye di Jawa Tengah, Senin (29/1/2024).

Gibran memang tengah aktif berkampanye di Jawa Tengah sejak beberapa hari ini.

Gibran menyebut kampanye di Jawa Tengah itu untuk ‘menggetarkan’ suara di Kandang Banteng.

“Menggoyang? Enggak. Menggetarkan aja,” kata Gibran di Tegal, Senin (29/1/2024).

Calon Presiden Ganjar Pranowo yang saat ini tengah berkampanye di Pontianak mengingatkan Gibran Rakabuming Raka agar berhati-hati menggetarkan Jawa Tengah yang dikenal sebagai kandang Banteng.

“Jangan sampai getaran yang ditimbulkan malah akan menanduk Gibran sendiri.” ujar Ganjar saat ditanya wartawan di Pontianak, Rabu (31/1/2024) sambil tertawa khasnya.

Istilah Kandang Banteng adalah julukan bagi daerah yang menjadi basis suara PDI Perjuangan yang mengusung Ganjar dan Cawapres Mahfud MD dalam Pilpres 2024.

Kandang Banteng juga pernah menjadi lumbung suara Jokowi saat maju sebagai Capres pada tahun 2014 dan 2019.

Menurut Ganjar, berdasarkan kampanye yang dilakukannya ke berbagai daerah di Jateng, hingga saat ini Jateng masih diklaim Ganjar sebagai basis suara PDI Perjuangan.

Oleh sebab itu, Ganjar mempersilahkan Gibran menggetarkan Kandang Banteng. Tapi Ganjar mengingatkan bahwa Banteng itu adalah dirinya bersama kader PDI Perjuangan.

“Awas lho hati-hati nanti ketanduk,” tukas Ganjar kali ini dengan mimik lebih serius.

Ke Wonosori, Jokowi Disambut Spanduk Ganjar

Tidak hanya Gibran, orang tua kandungnya Jokowi sebagai Presiden juga aktif berkeliling daerah. Terakhir Jokowi ke Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta, Selasa (30/1/2024)

Pada saat itu, Warga malah membentangkan Spanduk mendukung Ganjar Pranowo, sehingga memancing kekerasan aparat terhadap warga.

Dalam kasus ini, Calon Presiden Ganjar Pranowo meminta aparat dan pemerintah tidak membatasi ekspresi rakyat dalam menyuarakan hak pilih, apalagi sampai bertindak represif dan melukai warga.

Menurut dia, keberanian masyarakat mengekspresikan hak pilihnya seharusnya dihargai dan tidak perlu ditanggapi, apalagi sampai merasa tersinggung dan melakukan tindakan kekerasan.

Sikap terang-terangan masyarakat tersebut, lanjutnya, justru menjadi alarm bagi pemerintah dan seluruh peserta kontestasi Pemilu 2024 untuk tidak main-main dan menyalahgunakan kekuasaan termasuk menunggangi program bansos untuk kampanye terselubung, karena seluruh rakyat mengontrol.

“Menurut saya, keberanian-keberanian masyarakat yang muncul ini mustinya disadari betul oleh kita semua, oleh para politisi agar tidak bisa kita main-main, karena seluruh rakyat mengontrol. Termasuk bansos dan sebagainya, jangan disalah gunakan dan jangan ditunggangi politik, karena itu hak rakyat,” tutur Ganjar.

SIMAK JUGA :  Negara, Propinsi dan Tiga Bupati Sepakat Selamatkan Danau Singkarak dan Maninjau

Capres berambut putih itu juga mendorong masyarakat untuk tidak takut mengekspresikan hak pilih mereka karena dijamin dan dilindungi konstitusi.

Meski demikian, Ganjar mengingatkan agar para relawan dan pendukung paslon 3, Ganjar-Mahfud, untuk menyampaikan aspirasinya dengan sopan dan tidak melanggar aturan.

“Kalau ingin menyampaikan khususnya para pendukung Ganjar-Mahfud berikan secara sopan, secara baik, dan sampaikan saja. Tapi rasanya kalau hanya sekadar membentangkan spanduk begitu ya, enggak apa-apa lah biasa saja,” ungkap Ganjar.

Dia menambahkan, menjadi pemerintah memang harus siap menerima risiko penolakan dari rakyat, baik lewat aksi demonstrasi bahkan ada yang sampai dimaki-maki. Hal itu, merupakan luapan ekspresi, sehingga tak perlu terbawa perasaan (baper)

“Wong dulu saya juga jadi eksekutif dimaki-maki di depan umum, juga biasa kok. Itulah ekspresi rakyat. Mungkin karena ingin menyampaikan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Masa sih gitu aja baper?” ujar Ganjar.

Sedangkan kepada aparat, Ganjar berpesan agar tetap tenang, tidak terpancing dengan aksi masyarakat dalam mengekspresikan pilihan politik mereka, apalagi sampai menggunakan kekerasan.

Ganjar juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua DPC PDIP Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, yang membantu warga yang diduga mengalami kekerasan dari aparat keamanan akibat membentangkan spanduk dukungan kepada Ganjar saat Jokowi sedang berkunjung ke Wonosari.

Endang menerangkan, kejadian tersebut berlangsung pada saat rangkaian kunjungan Presiden Jokowi ke peresmian Inpres Jalan Daerah Provinsi DIY di Kalurahan Mulo, Kapanewon Wonosari.

“Kejadiannya itu pas Presiden ke Pasar (Argosari, Wonosari). Salah satu warga masyarakat menyampaikan ucapan selamat datang ke Presiden dengan spanduk dan menyampaikan aspirasinya bahwa yang bersangkutan memilih Ganjar.

“Selamat datang Pak Jokowi, tapi kami memilih Pak Ganjar’,” tutur Endah.

Saat itu juga, kata Endah, orang tersebut diamankan oleh orang yang diduga oknum aparat. Setelahnya, Endah mengaku ditelepon dan langsung mendatangi tempat kejadian.

“Langsung di situ diamankan oleh aparat dan dianiaya, kita ada videonya, kemudian hidung dan gusi berdarah. Saya ditelepon, saya datang dan saya bawa ke rumah sakit,” ungkap Endah.

Jokowi bukan kali ini mendapatkan ekspresi dukungan Ganjar saat berkeliling daerah. Saat Jokowi ke Jalan Malioboro DIY, Warga setempat juga mengacungkan salam tiga jari dan berteriak dukung Ganjar.

Saat Jokowi melintas di salah satu ruas jalan di Jawa Tengah, warga malah berbaris di pinggir jalan sembari mengacungkan salam 3 jari dan teriakan : “kami dukung Ganjar pak Jokowi.” (*)

Editor : Awaluddin Awe