MENGETAHUI TENTANG MINANGKABAU SERTA MACAM-MACAM SUKU YANG ADA DI MINANGKABAU

  • Bagikan

Oleh: Hasbi Ash-shidiqqi
Mahasiswa Jurusan Sastra Daerah Minangkabau

Minangkabau atau disingkat Minang merujuk pada entitas kultural dan geografis yang ditandai dengan penggunaan bahasa, adat yang menganut sistem kekerabatan matrilineal dan identitas agama Islam. Secara geografis, Minangkabau meliputi daratan Sumatra Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatra Utara, barat daya Aceh dan Negeri Sembilan di Malaysia.

Dalam percakapan awam, orang Minang sering kali disamakan sebagai orang Padang. Hal ini merujuk pada nama ibu kota provinsi Sumatra Barat, yaitu Kota Padang. Namun, mereka biasanya akan menyebut kelompoknya dengan sebutan urang awak. Awak itu sendiri berarti saya, aku atau kita dalam percakapan keseharian orang Minang. Jadi dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan urang awak itu adalah orang Minang itu sendiri.

Seperti etnis lainnya, dalam etnis Minangkabau terdapat banyak klan yang dinamakan dengan istilah suku. Menurut tambo alam Minangkabau, pada masa awal pembentukan kebiasaan istiadat Minangkabau oleh Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang, hanya telah tersedia empat suku awal yang dijadikan nama dari dua kelarasan.

Dari tambo yang diterima secara turun temurun, menceritakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain. Walau tambo tersebut tidak tersusun secara sistematis dan lebih kepada legenda berbanding fakta serta cendrung kepada sebuah karya sastra yang sudah menjadi milik masyarakat banyak. 

Namun kisah tambo ini sedikit banyaknya dapat dibandingkan dengan Sulalatus Salatin yang juga menceritakan bagaimana masyarakat Minangkabau mengutus wakilnya untuk meminta Sang Sapurba salah seorang keturunan Iskandar Zulkarnain tersebut untuk menjadi raja mereka.

Masyarakat Minang merupakan bagian dari masyarakat Deutro Melayu (Melayu Muda) yang melakukan migrasi dari daratan China Selatan ke pulau Sumatra sekitar 2.500–2.000 tahun yang lalu.

Diperkirakan kelompok masyarakat ini masuk dari arah timur pulau Sumatra, menyusuri aliran sungai Kampar sampai ke dataran tinggi yang disebut darek dan menjadi kampung halaman orang Minangkabau. 

Beberapa kawasan darek ini kemudian membentuk semacam konfederasi yang dikenal dengan nama luhak, yang selanjutnya disebut juga dengan nama Luhak Nan Tigo, yang terdiri dari Luhak Limo Puluah, Luhak Agam, dan Luhak Tanah Data. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, kawasan luhak tersebut menjadi daerah teritorial pemerintahan yang disebut afdeling, dikepalai oleh seorang residen yang oleh masyarakat Minangkabau disebut dengan nama Tuan Luhak.

Sementara seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan penduduk, masyarakat Minangkabau menyebar ke kawasan darek yang lain serta membentuk beberapa kawasan tertentu menjadi kawasan rantau. Konsep rantau bagi masyarakat Minang merupakan suatu kawasan yang menjadi pintu masuk ke alam Minangkabau.

Rantau juga berfungsi sebagai tempat mencari kehidupan, kawasan perdagangan. Rantau di Minangkabau dikenal dengan Rantau Nan Duo terbagi atas Rantau di Hilia (kawasan pesisir timur) dan Rantau di Mudiak (kawasan pesisir barat).

Pada awalnya penyebutan orang Minang belum dibedakan dengan orang Melayu, namun sejak abad ke-19, penyebutan Minang dan Melayu mulai digunakan untuk membedakan budaya matrilineal yang tetap bertahan pada etnis Minang, berbanding patrilineal yang dianut oleh masyarakat Melayu pada umumnya. Selain itu ada berbagai macam suku di Minagkabau ini yaitu sebagai berikut.

SIMAK JUGA :  DPRD Kabupaten Limapuluh Kota Kunker ke Pemko Batam Sekalian Pelesir ke Singapura

Suku-suku tersebut adalah:
Suku Koto
Suku Piliang
Suku Bodi
Suku Caniago

Sedangkan kelarasan yang dimaksud adalah kelarasan koto piliang dan kelarasan bodi caniago, kelarasan disini semacam sistem kekuasaan, dan dalam perkembangannya kelarasan koto piliang cendrung untuk sistem aristokrat sedangkan kelarasan bodi caniago lebih untuk sistem konfederasi.

Dan bila melihat dari asal kata dari nama-nama suku induk tersebut, dapat dituturkan kata-kata tersebut berasal dari bahasa Sanskerta, sebagai contoh koto berasal dari kata kotto yang berfaedah benteng atau kubu, piliang berasal dari dua kata phi dan hyang yang digabung berfaedah pilihan tuhan, bodi berasal dari kata bodhi yang berfaedah orang yang terbangun, dan caniago berasal dari dua kata chana dan ago yang berfaedah sesuatu yang berharga.

Demikian juga sbg suku-suku awal selain suku induk, nama-nama suku tersebut tentu berasal dari bahasa Sanskerta dengan pengaruh agama Hindu dan Buddha yang berkembang disaat itu. Sedangkan perkembangan berikutnya nama-nama suku yang telah tersedia berganti pengucapannya karena perkembangan bahasa minang itu sendiri dan pengaruh dari agama Islam dan pendatang-pendatang asing yang tinggal menetap bersama.

Suku-suku dalam Minangkabau pada awal mulanya probabilitas ditentukan oleh raja Pagaruyung, namun sejak habisnya kerajaan Pagaruyung tak telah tersedia lagi muncul suku-suku baru di Minangkabau. Sedangkan orang Minang di Negeri Sembilan, Malaysia, membentuk 13 suku baru yang tidak sama dengan suku asalnya di Minangkabau.

Daftar Suku di Minangkabau:
Suku dalam Kalarasan :
Koto, Piliang, Bodi, Caniago

Pecahan/Kerabat Suku:

Payobada, Pitopang, Tanjuang, Sikumbang, Guci, Panai, Jambak, Panyalai, Kampai, Bendang, Malayu, Kutianyie, Mandailiang, Sipisang, Mandaliko, Sumagek, Dalimo, Singkuang, Domo

Suku-suku Minang di Nagari Sambilan:

Biduanda (Dondo), Batu Hampar (Tompar), Paya Kumbuh (Payo Kumboh), Mungkal, Tiga Nenek, Seri Malenggang (Somolenggang), Seri Lemak (Solomak), Batu Belang, Tanah Datar, Anak Acheh, Anak Melaka, Tiga Batu

Suku-suku Minang di Rokan:

Suku Melayu, Suku Ampu, Suku Kuti, Suku Kandang Kopuh, Suku Soborang, Suku Pungkuik, Suku Maih, Suku Bonuo, Suku Muniliang

Suku-suku Minang di Rao:

Suku Kandang Kopuh, Suku Pungkuik, Suku Bonuo, Suku Moneiliang

Suku-suku Minang di Indragiri:

Koto Tuo, Kampung Tonga, Koto Baru, Suku Moneiliang, Caniago, Melayu, Patopang, Piliang,  Nan Tigo, Nan Ompek, Nan Limo, Nan Onam Piliang Lowe, Piliang Soni, Caromin (Cermin), Mandahiliang, Kampung Salapan, Tigo Kampuang, Limo Kampuang, Piliang Atas, Piliang Bawah, Piabadar (Payobada), Bendang, Kampai, Koto Piliang, Piliang Godang, Piliang Kociak, Piliang Tonga

Suku-suku Minang di Kampar:

Suku Domo, Suku Bendang, Suku Piliong, Suku Caniago, Suku Melayu, Suku Datuk Singo, Suku Datuk Pandak, Suku Melayu Bendang, Patopang (Putopang), Suku Melayu Tuo, Suku Kampai (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *