Beranda BERITA UTAMA Uskup Desmon Tutu Kecam Suu Kyi : Sikap Diam Anda Menambah Kepedihan

Uskup Desmon Tutu Kecam Suu Kyi : Sikap Diam Anda Menambah Kepedihan

Aung San Suu Kyi bertemu dengan Desmond Tutu di Yangon, Myanmar, 26 Februari 2013. (Foto AFP/Soe Than Win)

JOHANNESBURG, harianindonesia.id – Salah seorang tokoh anti-apartheid Afrika Selatan, Uskup Agung Desmond Tutu, melontarkan kecaman terhadap State Counsellor (Perdana Menteri) Myanmar, Aung San Suu Kyi.

Seperti dilaporkan kantor berita Perancis, AFP, Jumat (8/9), Tutu akhirnya buka suara mengenai krisis etnis minoritas Muslim Rohingya yang sedang mengguncang Myanmar.

“Jika harga politik yang harus dibayar untuk kekuasaan tertinggi di Myanmar adalah sikap diam Anda, tentu itu adalah harga yang sangat mahal,” kata Tutu mengeritik Suu Kyi.

“Ini tidaklah tepat seorang yang menjadi simbol kebenaran memimpin Myanmar berlaku dengan cara ini (diam, Red). Ini menambah kepedihan kita,” ujar uskup berusia 86 tahun itu.

Tutu menekankan, foto-foto dari korban Rohingya sungguhlah membuat kita merasa sakit dan takut melihatnya.

Monsinyur Tutu menyatakan, dia akan berdoa agar Suu Kyi dapat lebih berani lagi dan tetap kuat untuk berbicara atas nama keadilan, hak asasi manusia, dan persatuan bangsa Myanmar.

Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar menilai, sentimen anti-Myanmar yang berkembang di berbagai negara merupakan buah dari kampanye kabar bohong ( hoax) yang dibuat “untuk mempromosikan kepentingan teroris”.

Gelombang simpati masyarakat internasional terhadap etnis Rohingya dibidani oleh “gunung es raksasa berupa informasi palsu,” kata Suu Kyi seperti dilaporkan Deutsche Welle, Rabu (6/9/2017).

Menurutnya, kampanye kabar bohong tersebut “sengaja dibuat untuk mempromosikan kepentingan teroris.”

Suu Kyi dan Tutu adalah sama-sama penerima Nobel Perdamaian, Tutu di tahun 1984 dan Suu Kyi di tahun 1991.

Tutu dan Suu Kyi bersahabat. Pada 26 Februari 2013, Tutu pernah mengunjungi Yangon dan bertemu dengan Suu Kyi.

1000 Orang Tewas

Dikutip dari Kompas.com lebih dari 1.000 orang telah tewas akibat konflik bersenjata di negara bagian Rakhine, Myanmar, dan mereka pada umumnya adalah warga minoritas Rohingya.

Jumlah tersebut dua kali lebih besar dari angka total yang dirilis pemerintah Myanmar. Penjelasan itu disampaikan seorang wakil khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jumat (8/9/2017).

Utusan senior PBB itu juga mendesak Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar yang juga pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 1991, untuk segera bertindak menolong kaum Rohingya.

Menurut kantor berita Perancis, AFP, kekerasan terbaru yang terjadi pada 25 Agustus dan dampak ikutannya telah menyebabkan lebih dari 270.000 warga sipil Rohingya melarikan diri ke Banglades

Kekerasan di Myanmar, kata Yanghee Lee, pelapor khusus PBB untuk uusan HAM di Myanmar, “mungkin telah menyebabkan sekitar seribu atau lebih yang tewas” dan

Kematian sebanyak itu, kata Lee, “mungkin berasal dari dua kubu (etnis Rohingya dan lokal), namun sangat terkonsentrasi pada populasi Rohingya”.

Suu Kyi, yang telah diberi jabatan khusus sebagai state counsellor (setara dengan Perdana Menteri) oleh Presiden Htin Kyaw hingga sejauh ini belum menunjukkan langkah mencegah kekerasan.

Menurut PBB, banyak warga Rohingya juga tewas saat berusaha melarikan diri dari pertempuran antara militer dan militan di Rakhine.

Banyak saksi mata melaporkan, permukiman Rohingya di Rakhine telah dibakar sejak militan Rohingya melakukan serangant terkoordinasi ke 20 pos militer dan polisi pada 25 Agustus.

Gelombang kekerasan di Rakhine terjadi pertama kali dipicu oleh serangan terhadap sebuah pos polisi di perbatasan oleh militan sehingga sembilan polisi tewas.

Serangan itu memicu kemarahan besar aparat keamanan Myanmar yang lalu melakukan operasi besar-besaran menyisir pelaku dari kampung ke kampung dan desa ke desa.

Dalam proses itulah penduduk melaporkan, militer telah melakukan berbagai tindak kekerasan seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan penculikan.

Gelombang kekerasan terbesar terjadi pada 25 Agustus lalu, yang juga memicu pengerahan pasukan besar-besaran ke wilayah Rakhine oleh otoritas Myanmar.

Lee, cendekiawan asal Korea Selatan, mengatakan dia khawatir kekerasan “itu sedang bergerak menuju bencana terburuk yang dunia dan Myanmar pernah saksikan dalam beberapa tahun ini.” (dev)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here