Beranda BERITA UTAMA Korban Meninggal Banjir Sulsel 59 Orang, Gubernur: Banjir Dipicu Pembalakan Liar...

Korban Meninggal Banjir Sulsel 59 Orang, Gubernur: Banjir Dipicu Pembalakan Liar dan Alih Fungsi lahan

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah.

MAKASSAR, harianindonesia.id – Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah menyatakan, banjir dan longsor di sejumlah kabupaten di Sulsel beberapa diduga akibat aktifitas pembalakan liar dan alih fungsi lahan, seperti penambangan liar.

“Saya bisa pastikan banjir dan longsor ini terjadi karena alih fungsi lahan,” kata Nurdin usai meninjau lokasi banjir di Kabupaten Gowa, Sulsel, Jumat (25/1) dilansir harianindonesia.id dari maccanews.com, Sabtu (26/1/2019).

Menurutnya, pembalakan liar menyebabkan lahan di lereng Sungai Saddang, yang merupakan sungai terpanjang di Sulsel, menjadi tandus sehingga menyebabkan banjir dan tanah longsor.

“Makanya kita harus melakukan redesign hulu ini sesegera mungkin,” ujar Nurdin.

Banjir bandang terjadi karena kantong air yang ada disepanjang sungai beralih fungsi. Bendungan juga mengalami pendangkalan karena sedimen material buangan tambang.

“Jadi, pertama kita akan tertibkan tambang, kedua alih fungsi lahan yang ada di atas (hulu Sungai Jeneberang). Kita harus konservasi,” kata Nurdin.

59 Meninggal

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB) mencatat hingga kemarin jumlah korban meninggal akibat banjir dan tanah longsor di Sulsel mencapai 59 orang.

BNPB juga mencatat 106 desa terdampak bencana yang tersebar di 61 kecamatan di 13 kabupaten/kota, yaitu Jeneponto, Maros, Gowa, Kota Makassar, Soppeng, Wajo, Barru, Pangkep, Sidrap, Bantaeng, Takalar, Selayar, dan Sinjai.

“Data sementara 59 orang meninggal, 25 orang hilang, 47 orang luka-luka, 6.596 orang terdampak. Juga ada 3.481 orang mengungsi,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui siaran pers, Jumat (25/1).

BNPB juga melaporkan banjir dan longsor di Sulsel selain menyebabkan banyak korban, juga menimbulkan kerusakan fisik. Tercatat 79 unit rumah rusak, 4.857 unit rumah terendam, dan 11.876 hektare sawah terendam banjir.

Bantuan terus berdatangan dari berbagai pihak. BPBD bersama BNPB, TNI, Polri, Basarnas, Kemensos, Kemenkes, Kementerian PU Pera, dan SKPD. Kemudian NGO, sukarelawan, dan berbagai unsur lainnya terus membantu penanganan darurat.

Selain itu, bencana banjir dan longsor juga menimbulkan kerusakan sarana fisik fasilitas publik. Fasilitas itu 10 jembatan, jalan sepanjang 16,2 km, 2 pasar, 12 unit fasilitas peribadatan, 6 fasilitas pemerintah, dan 22 unit sekolah.

Mengenai kondisi terkini di Sulse, Sutopo Purwo Nugroho menyatakan banjir sudah surut di beberapa wilayah. Meski demikian, tim SAR gabungan masih terus melakukan evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban di lokasi bencana.

“Bantuan terus berdatangan dari berbagai pihak. BPBD bersama BNPB, TNI, Polri, Basarnas, Kemensos, Kemenkes, Kementerian PU Pera, dan SKPD. Kemudian NGO, sukarelawan, dan berbagai unsur lainnya terus membantu penanganan darurat,” ujar Sutopo. (jen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here